"Lebih baik memilih kata yang sama tapi tidak ada yang tersakiti, misal non muslim dan lain-lain," imbau Wakil Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anton Tabah Digdoyo dalam pencerahannya di depan Munas Aliansi Nasional Anti Syiah (Annas) di Bandung, hari ini (Minggu, 14/5).
Anton berpendapat, kata-kata non muslim lebih dapat diterima daripada kafir meski maknanya sama-sama terkena firman Allah surat Al Imron ayat 19 dan 85 serta surat Al Bayyinah ayat 6.
Memilih kata itu, lanjut Aton, perlu bukan hanya dalam dakwah tapi juga hal apapun.
"Contoh mobil Toyota merk Inova tidak laku di Afrika karena Inova dalam bahasa Afrika itu artinya mogok. Mana mungkin orang mau beli mobil mogok," cetus dewan pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Pusat yang juga purnawirawan jenderal Polri tersebut.
Pun begitu orang Jepang akan sangat marah jika dibilang malas dan bodoh ketika senyum. Karena bagi orang Jepang, malas itu sumber kebodohan dan kegagalan.
"Sedang orang Indonesia sangat marah jika dibilang bodoh lebih suka dibilang malas," banding Anton lagi.
[wid]
BERITA TERKAIT: