Dikutip dari CNBC International, Jumat 1 Mei 2026, dalam proyek ini, Japan Airlines bekerja sama dengan GMO AI & Robotics untuk menguji robot dalam berbagai tugas, seperti memuat bagasi dan membersihkan kabin pesawat. Program uji coba ini direncanakan berlangsung selama dua tahun, dengan kemungkinan penerapan lebih luas jika hasilnya memuaskan.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke Jepang, sementara jumlah tenaga kerja justru terus menurun akibat populasi yang menua dan tingkat kelahiran yang rendah. Kondisi ini membuat sektor penerbangan harus mencari solusi alternatif agar operasional tetap berjalan lancar.
Dalam demonstrasi teknologi, robot humanoid terlihat mampu melakukan berbagai aktivitas sederhana seperti memindahkan barang di ban berjalan, menyapa manusia, hingga berinteraksi dengan rekan kerja. Teknologi ini menunjukkan kemajuan pesat dalam bidang robotika, terutama dalam kemampuan gerak dan kecerdasan buatan.
Namun, para analis menilai bahwa penggunaan robot humanoid masih memiliki keterbatasan. Mereka belum cukup cakap untuk menangani tugas-tugas yang membutuhkan ketelitian tinggi, dan tetap memerlukan pengawasan manusia dalam operasionalnya.
Salah satu analis, Marc Einstein dari Counterpoint Research, menegaskan bahwa teknologi ini masih dalam tahap pengembangan.
"Robot-robot ini, mereka belum terlalu pintar, sehingga peran manusia masih sangat dibutuhkan dalam implementasinya," kata Einstein.
Meski begitu, potensi robot humanoid dinilai sangat besar di masa depan. Dengan perkembangan teknologi yang cepat, para ahli memperkirakan penggunaan robot dalam skala lebih luas bisa terjadi dalam lima tahun ke depan, terutama untuk membantu mengatasi krisis tenaga kerja di Jepang.
BERITA TERKAIT: