Begitu kata mantan anggota Komisi Politik dan Komisi Hukum DPR RI Firman Jaya Daeli saat menjadi pembicara dalam forum dialog terbuka bertema "Silaturahim Kebangsaan: Membumikan Pancasila dan Menjaga NKRI" di gedung Pengurus Wilayah NU Nusa Tenggara Barat (NTB), Mataram, Lombok, NTT, beberapa waktu lalu.
Spiritualitas Pancasila, kata dia, lahir dan tumbuh bukan untuk mengembangkan dan menularkan sektarianisme, primordialisme, radikalisme.
"Pancasila dipastikan tidak merekomendasikan sifat-sifat dan sikap perilaku sektarian, primordial, ekstrim, intoleran, fundamentalis, dan radikal. Sifat dan sikap ini bukan merupakan kenyataan sifat, sikap, dan kepribadian masyarakat dan bangsa Indonesia," ujarnya.
Spritualitas Pancasila, jelasnya, lahir dan bangkit untuk menumbuhkan, menggandakan, dan membesarkan spiritualitas yang berkebudayaan, berkemanusiaan, berkeadaban, berkesatuan, bergotong royong, berkerakyatan, bermusyawarah, dan berkeadilan.
"Sebuah spiritualitas yang berbudaya, beradab, dan manusiawi," ungkapnya.
Selain Firman, acara ini juga turur menghadirkan Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kota Mataram Fairuz Zabadi dan akademisi Institut Agama Islam Negeri / IAIN Mataram NTB, Saleh Ending
Sejumlah tokoh dan pemuka agama dari kalangan NU dan Muhammadiyah turut hadir dalam diskusi ini. Termasuk, para aktivis organisasi ekstra kampus dari Kelompok Cipayung, komunitas pekerja sosial dan aktivis NGO (Civil Society), hingga kalangan jurnalis.
Dalam diskusi ini pembicara dan peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran strategis dan kontekstual dalam bingkai kebersamaan untuk membedah tema pokok bahasan "Membumikan Pancasila Dan Menjaga NKRI".
[ian]
BERITA TERKAIT: