"Beberapa kali Pak Prabowo memimpin rapat kabinet sambil menangis. Kalau ada gambar orang-orang miskin, orang tua renta masih narik becak, itu dia nangis. Ada anak gadis kecil namanya Naila, pakai kerudung, berdiri di depan rumah yang rubuh, yang rungkuk. Beliau nangis, bilang 'Kok bisa ya kita tidur sementara ada orang seperti ini?'" ungkap Fahri.
Menurut Fahri, sikap itu menunjukkan cara berpikir Prabowo yang sangat sederhana namun tegas. Presiden, kata dia, hanya memiliki dua agenda besar dalam transformasi bangsa, yakni menghentikan kebocoran dan mengakhiri ketimpangan.
Yang pertama, Prabowo meyakini adanya kebocoran besar pada APBN dan sumber daya alam. Keyakinan itu, lanjut Fahri, bahkan sudah disampaikan sejak lama dan diwarisi dari pemikiran ayahnya, Prof. Soemitro Djojohadikusumo.
“Makanya beliau melakukan efisiensi dan mengejar pihak-pihak yang mengambil sumber daya alam kita untuk diselundupkan dan dijual ilegal ke luar negeri. Ini prestasi besar,” tegas Fahri.
Fahri menyayangkan upaya tersebut kerap dianggap biasa oleh sebagian elite dan LSM. Padahal, kata dia, Prabowo sedang melakukan perampasan aset secara nyata, meski sering tidak diapresiasi.
“LSM sibuk bilang pemerintah tidak komit karena belum ada UU perampasan aset. Padahal Pak Prabowo lagi merampas aset. Ini aneh,” sindirnya.
Agenda kedua Prabowo, menurut Fahri, adalah menghentikan ketimpangan ekstrem antara si kaya dan si miskin. Presiden disebut sangat terguncang melihat jurang sosial yang makin lebar.
“Yang miskin ini benar-benar miskin, sementara ada yang kaya sekali. Ini yang mau beliau akhiri,” kata Fahri seperti dikutip dari YouTube Akbar Faizal Uncensored pada Rabu 14 Januari 2026.
Karena itu, Prabowo mendorong program pemberian makanan bergizi, susu bagi anak-anak, serta pendirian sekolah rakyat untuk memutus rantai kemiskinan struktural.
“Konsepsi Pak Prabowo sederhana. Kekayaan alam bocor, ini saya stop. Ada orang miskin sekali, ini saya angkat. Itu saja,” pungkas Fahri.
BERITA TERKAIT: