"Pahami makna betul survei, ada banyak yang memenangkan paslon tertentu. Hasil survei jangan jadi pegangan," ujarnya di Mabes Polri, Jakarta (Selasa, 18/4).
Menurut Tito, masyarakat seharusnya mengacu pada instansi terkait yang berwenang terkait proses penghitungan perolehan suara. Sehingga tidak lagi menganggap hasil survei sebagai rujukan dalam menentukan pemenang.
"Apalagi ada beberapa lembaga yang mengklaim hasil survei mereka sebagai pembenaran. Sebaiknya, andalkan mekanisme penghitungan suara yang sah, berdasarkan instansi berwenang KPU," terangnya.
Jelang pemungutan suara, beberapa lembaga mengeluarkan hasil survei terkait elektabilitas dua pasangan calon yang bertarung di Pilkada DKI, yakni Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi) dan petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat (Ahok-Djarot). Sebagian besar lembaga survei mengeluarkan hasil yang menempatkan Anies-Sandi lebih unggul dari rivalnya Ahok-Djarot.
Berikut hasil penelitan lembaga survei;
1. Lingkaran Survei Indonesia (LSI): Anies-Sandi memperoleh 51,4 persen dukungan, sedangkan Ahok-Djarot 42,7 persen
2. Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC): Anies-Sandi 47,9 persen, sementara Ahok-Djarot 46,9 persen
3. Survei Polmark: Anies-Sandi mendapat 49,1 persen dan Ahok-Djarot meraih 41,1 persen
4. Survei Median: Anies-Sandi mendapat 49,8 persen, sementara Ahok-Djarot meraih 43.5 persen
5. Indikator Politik Indonesia: Anies-Sandi meraih 48,2 persen, sementara Ahok-Djarot mendapat 47,4 persen
6. Lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN): Anies-Sandi unggul 52 persen, sementara Ahok-Djarot hanya 43 persen.
Hanya ada satu lembaga survei yang mengunggulkan pasangan Ahok-Djarot yakni Charta Politika Indonesia. Di mana, Anies-Sandi meraih angka 44,8 persen, dan Ahok-Djarot mendapat 47,3 persen.
[wah]
BERITA TERKAIT: