
Pengakuan Menteri ESDM Sudirman Said di hadapan Komisi VII DPR bahwa ada ketidakyakinan untuk bisa merealisasikan proyek listrik 35.000 megawatt dalam empat tahun mendatang, bisa dijadikan pertanda bahwa Sudirman mulai berpikir realistis.
"Ini kabar yang bagus. Artinya Sudirman Said sudah mengakui kesalahannya yang terlalu berambisi mewujudkan proyek listrik 35.000 megawatt tanpa menyadari keterbatasan yang ada," kata Sekretaris Jenderal Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (HUMANIKA), Syaroni kepada
Kantor Berita Politik RMOL, sesaat lalu.
Sudirman Said sebelumnya anti kritik, termasuk kritik dari Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli. Sudirman terlalu angkuh untuk menerima kritik karena merasa sudah didukung penuh oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan bahkan Presiden Jokowi juga sudah mulai terbius oleh ambisi tersebut.
Bila saat ini Sudirman Said sudah mulai menyadari keterbatasan itu, sebut Sya'roni, maka akan lebih hebat lagi kalau dirinya mengemukakan ketidakyakinan tersebut di hadapan Presiden Jokowi. Sehingga Jokowi tidak lagi sesumbar membanggakan proyek listrik 35.000 megawatt di hadapan publik.
"Tidak etis juga membiarkan presiden terus-terusan sesumbar untuk sebuah proyek yang sulit diwujudkan. Itu sama saja membiarkan presiden menjadi bahan tertawaan belaka. Kalau sudah demikian, presiden seakan sudah kehilangan kewibawaannya," terang Sya'roni.
Oleh karena itu, masih kata dia, Sudirman Said harus secepatnya menghadap presiden untuk merevisi proyek listrik 35.000 megawatt. Dan tidak ada salahnya, Sudirman Said juga segera berkonsultasi kepada Menteri Rizal Ramli untuk menetapkan target proyek listrik yang realistis.
"Karena bagaimana pun Kementerian ESDM di bawah koordinasi Kemenko Maritim dan Sumber Daya," tukas Sya'roni.
[dem]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: