Kujungan Setya Novanto dan Fadli Zon ke Kongres AS ini diapresiasi John Boehner karena akan memperkuat hubungan AS dan Indonesia. Boehner melihat Indonesia sebagai negara yang penting bagi AS dan kerja sama di berbagai bidang perlu diperkuat. Boehner pun menanyakan beberapa industri strategis yang menjadi prioritas Indonesia saat ini.
Dalam pertemuan Kamis waktu setempat ini (Kamis, 10/9), Setya Novanto meminta Kongres AS untuk mendukung berbagai kesepakatan kerja sama kedua negara. Peran Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar dan berdemokrasi menjadi penting untuk menghambat gerakan radikal. Boehner pun sepakat bila kawasan laut China Selatan merupakan kawasan yanh harus dijaga stabilitasnya sehingga tetap kondusif bagi perdamaian.
Dalam kesempatan ini, Fadli Zon menyampaikan usulan peningkatan program kerja sama dengan Kongres AS terkait peningkatan kapasitas SDM parlemen, khususnya untuk peningkatan kapasitas peneliti dan pustakawan DPR melalui pelatihan di Congressional Reasearch Service dan Library Kongres. Boehner sangat mendukung usulan ini dan meminta kepada stafnya untuk menindaklanjuti proposal DPR.
Usai bertemu dengan Boehner, delegasi DPR pun mendatangi Perpustakaan Kongres AS dalam rangka mengetahui peran perpustakaan dan pelayan riset bagi anggota parlemen. Perpustakaan ini memiliki kolekasi 162 juta benda, antara lain buku sekitar 40 juta judul. Ada 3.200 pegawai perpustakaan, serta 600 peneliti dari berbagai bidang.
Dengan perpustakaan ini maka anggota parlemen dapat mengakses semua informasi, termasuk layanan untuk penelitian, baik diminta atau tidak. Di perpustakaan yang juga bisa diakses publik ini bahkan ada koleksi tentang Asia, dan puluhan ribu buku tentang Indonesia.‎ Dalam kesempatan ini, Setya Novanto dan Fadli Zon menyampaikan perlunya kerjasama dan dukungan Perpustakaan Kongres untuk DPR RI. Pihak Library Congress pun siap memfasilitasi para pustakawan dan peneliti untuk magang disini.
Sebagaimana keterangan kepada redaksi (Sabtu, 12/9), delegasi DPR menilai Perpustakaan Kongres bisa dijadikan contoh dan rujukan untuk merevitalisasi perpustakaan DPR yang ada sekarang. Di masa depan, DPR juga perlu memiliki perpustakaan yang yang representatif dan menjadi tulang punggung peneliti, tenaga ahli, dan anggota DPR dalam menjalankan tugas legislatif.
[wid]
BERITA TERKAIT: