Hal itu disampaikan Ketua Presidium ITW, Edison Siahaan, dalam siaran persnya, Jumat (4/4). Menurutnya, masyarakat modern sudah menempatkan transportasi sebagai kebutuhan untuk mendukung aktivitasnya. Bahkan dalam kerangka ekonomi makro, transportasi menjadi tulang punggung perekonomian baik di tingkat nasional maupun regional. Lalu lintas dan angkutan jalan juga memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan dan integrasi nasional serta meningkatkan kesejahteraan umum.
"Negeri ini membutuhkan anggota legislatif dan Presiden yang peduli terhadap masalah-masalah lalu lintas. Tidak mungkin ada upaya membangun sistem lalu lintas yang menciptakan situasi dan kondisi keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas, jika pengambil kebijakan tidak peduli terhadap masalah-masalah lalu lintas," tegas Edison.
Menurutnya, saat ini kondisi lalu lintas sudah dalam kondisi gawat darurat. Kecelakaan dan kemacetan sudah menjadi momok menakutkan, bahkan telah membunuh kreativitas dan produktivitas masyarakat. Jika kondisi lalu lintas tidak segera diperbaiki, maka negeri ini akan sulit untuk mensejahterakan rakyatnya.
Dia menambahkan, buruknya sarana dan prasarana serta masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk tertib lalu lintas, memicu terjadinya kecelakaan yang menyebabkan jumlah korban jiwa terus meningkat.
ITW mencatat, jumlah korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas pada 2010 sebanyak 31.244 jiwa, dan pada 2011 sebanyak 32.657 jiwa, kemudian pada 2012 sebanyak 27.441 jiwa sedangkan pada 2013 sebanyak 25.157 jiwa. Selain korban jiwa, kecelakaan juga mengakibatkan kerugian material sekitar Rp 203 triliun-Rp 217 triliun per tahun.
[ald]
BERITA TERKAIT: