Untuk mengawasi transparansi Pemilu di Malaysia tersebut, Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia (PPI-M) membentuk tim pemantau Pemilu. Tujuannya, agar Pemilu di luar negeri menghasilkan produk yang sesuai dengan harapan masyarakat.
"Kami terus menghimpun informasi dan fakta kejanggalan, dengan harapan APBN yang dialokasikan bagi Pemilu LN tidak mubazir dan produk anggota DPR-nya berintegritas," tegas Ketua PPI Malaysia Gushairi kepada
Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Kamis, 3/4).
Gushairi mengatakan bahwa timnya telah menemukan banyak menemukan kelemahan signifikan dalam Pemilu 2014 ini. Terlebih sejak awal penunjukan panitia Pemilu yang tidak transparan dan mengabaikan unsur mahasiswa ini terus menuai protes.
Hasilnya, respon atas protes yang disampaikan kalangan TKI dan mahasiswa ditanggapi secara tambal-sulam ditambah tidak adanya permintaan maaf resmi dari penyelenggara, yakni PPLN Kuala Lumpur atas kesemrawutan data pemilih. Termasuk temuan-temuan kejanggalan pemilu dari tim pemantau PPI se-Malaysia yang juga ditanggapi sebelah mata oleh penyelenggara.
Dikarenakan belum ada itikad baik dari penyelenggara dan Panwaslu untuk mengklarifikasi berbagai temuan lapangan PPI, maka PPI mengajak pemilih WNI sekaligus para caleg yang berkompetisi di dapil DKI 2 untuk ikut andil mengawasi penyelenggara Pemilu di luar negeri.
"Khususnya di Malaysia yang punya pemilih mencapai 1,2 juta jiwa atau lebih dari separuh total pemilih luar negeri seluruh dunia," pungkas Gushairi.
[wid]
BERITA TERKAIT: