Begitu disampaikan Presidium Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) se-Malaysia, Agus Hairi kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Minggu, 30/3). Agus mengatakan bahwa ia sempat bertemu dengan TKI Indonesia bernama Sani yang mengaku enggan memilih lantaran dari asrama pabrik ke TPS berjarak 150 kilometer.
"Bagaimana mungkin saya berjalan sejauh itu hanya untuk mencoblos, kami kecewa dengan Panitia Pemilu di Kuala Lumpur," kata agus menirukan keluhan Sani.
Lain lagi dengan Dewi. Seorang pekerja di pabrik yang sama itu menuturkan bahwa dirinya kebingungan lantaran tidak tahun dimana lokasi TPS miliknya.
"Saya tinggal di asrama panorama, tetapi ketika di cek lokasi TPS diarahkan ke Hutan Lintang yang saya nggak tahu dimana lokasinya," ujar Sani kepada Tim Pemantau dari PPI Malaysia itu.
Hingga sampai saat ini, kata Agus, pihak penyelenggara belum bisa memberikan klarifikasi permasalahan apa yang terjadi dalam system data dan alokasi pemilih tersebut. Tim Pemantau dari PPI Malaysia telah mengkonfirmasi hal ini kepada PPLN Kuala Lumpur. Namun sayang, PPLN Kuala Lumpur hanya memberi penjelasan singkat bahwa aplikasi android tersebut merujuk pada pusat database PPLN.
"Apakah hal ini mengindikasikan database DPT PPLN Kuala Lumpur tidak valid, bagaimana kualitas Pemilu dengan situasi seperti ini?" tandasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: