Demikian disampaikan A Dolly Kurnia dalam acara diskusi panel bertajuk "Urgensi Penguatan Demokrasi Indonesia" yang diselenggarakan Yellow Forum for Young Leader (YLYF) di Asean Room Hotel Sultan, Jakarta (Minggu, 27/1).
Menurutnya dua elemen itu salah dalam menilai demokrasi sehingga satu elemen menjadikan demokrasi sebagai ladang untuk mengeruk kekayaan sementara elemen yang lainnya terpuaskan dengan demokrasi prosedural.
"Jadi dua-duanya juga salah dalam menilai demokrasi itu. Di elit, seolah-olah mereka mengagung-agungkan demokrasi padahal dalam prakteknya mereka menjalankan oligarki," ujar salah satu inisiator YLYF tersebut.
Sementara di masyarakat, lanjut Dolly, keterbukaan hanya dimaknai sebatas mempunyai hak pilih untuk memilih di tingkat desa hingga presiden, padahal itu hanya demokrasi secara prosedural saja.
Maka dari itu, masalah seperti elementer ini harus segera disikapi. Masyarakat harus cerdas bahwa demokrasi tidak sebatas menghadiri pemilihan, sementara elit parpol harus jujur dan amanah dalam menjalankan demokrasi.
"Itu yang harus dikembalikan kepada makna sebenarnya tentang demokrasi," ujar wasekjen DPP Partai Golkar itu.
[ian]
BERITA TERKAIT: