Hal itu disampaikan Analis Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat kepada
Kantor Berita RMOLLampung, Sabtu malam, 5 September 2026.
Wahyu mengingatkan, abu vulkanik memiliki karakter berbeda dengan debu biasa sehingga dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
“Abu vulkanik ini patut kita waspadai. Kurangi aktivitas di luar ruangan,” kata Wahyu.
Ia mengatakan, paparan abu vulkanik tidak hanya berisiko terhadap saluran pernapasan, tetapi juga dapat memicu gangguan pada mata dan kulit.
“Kita pakai masker aja bisa terpapar mata, mata kita bisa bengkak, bisa alergi kulit sampai gatal-gatal hebat,” ujar Wahyu yang juga Sekretaris BPBD Lampung ini
Bahkan, Wahyu menyampaikan bahwa ditemukan satu kasus warga yang mengalami mata bengkak akibat paparan abu vulkanik dan satu kasus alergi kulit tangan yang gatal dan memerah setelah kena abu vulkanik setelah menyapu abu tersebut.
“Matanya seperti digigit tawon. Selain itu abu vulkanik ini bisa memicu alergi dengan gejala kulit memerah sampai gatal-gatal hebat,” jelas dia.
Wahyu menegaskan, abu vulkanik tidak bisa disamakan dengan debu jalanan yang biasa ditemui masyarakat sehari-hari.
“Karena abu vulkanik beda dengan abu jalanan. Kalau abu jalanan biasa aja imun tubuh kita sudah biasa, tapi kalau abu vulkanik ini jenis abu yang berbeda,” jelasnya lagi.
Ia meminta perhatian lebih diberikan kepada kelompok rentan, seperti orang dengan penyakit tertentu, lanjut usia, serta bayi dan balita.
“Jangan bawa bayi dan balita keluar rumah, saya khawatir sekali ini orang masih malam mingguan, besok masih car free day (CFD),” sambungnya.
Wahyu juga mengingatkan penggunaan masker saja belum tentu cukup untuk melindungi tubuh dari paparan abu vulkanik.
“Pakai masker aja gak cukup. Kita keluar rumah harus pakai topi, kalau kulit kepalanya alergi juga bisa berbahaya, saya harap masyarakat lebih waspada,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: