Zaahira tumbuh dalam keluarga besar dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Setelah kedua orangtua kandungnya berpisah, keluarganya bertambah dengan hadirnya ayah dan saudara tiri.
Kini, Zaahira tinggal bersama ibu, ayah tiri, tiga saudara kandung, dan empat saudara tiri. Mereka menempati rumah berdinding kayu bekas berukuran sekitar 5x3 meter di Koto Gaek.
Rumah yang sempit harus menampung banyak anggota keluarga. Suasana pun kerap ramai oleh tangisan adik, percakapan anggota keluarga, hingga suara dari lingkungan sekitar. Kondisi tersebut membuat Zaahira kesulitan mendapatkan ruang yang tenang untuk belajar dan beristirahat.
Di tengah keterbatasan itu, Zaahira memilih menjalaninya tanpa banyak mengeluh. Harapannya mulai menemukan jalan ketika ia diterima di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 5 Solok.
Kehidupannya pun perlahan berubah. Di sekolah berasrama tersebut, Zaahira memiliki kamar sendiri, jadwal belajar yang lebih teratur, serta lingkungan yang mendorongnya semakin dekat dengan agama.
"Dulu jarang sholat. Sekarang sholat lima waktu terjaga,” katanya, dikutip dari keterangan tertulis Kementerian Sosial (Kemensos), Kamis 27 Agustus 2026.
Bukan hanya soal pendidikan, kehidupan di asrama juga membuat Zaahira menemukan ketenangan yang sebelumnya sulit ia dapatkan di rumah.
"Di sini ada zikir, baca Al-Qur’an tiap hari, puasa juga, lebih tenang rasanya," ucapnya.
Dari ketenangan itu, semangat belajarnya ikut tumbuh. Zaahira mulai menyukai buku dan memiliki cita-cita menjadi seorang pengusaha dengan karier yang stabil. Ia ingin suatu hari nanti bisa membantu meningkatkan perekonomian keluarganya.
“Doain orang tua dan keluarga. Rezekinya dilancarkan, supaya hidup lebih layak,” tuturnya.
Doa sederhana itu menggambarkan harapan besar seorang anak yang tumbuh di tengah keterbatasan. Ada kerinduan, dinamika keluarga, dan keinginan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik.
Zaahira berharap dapat terus bersekolah di Sekolah Rakyat hingga jenjang SMA. Namun, ia juga percaya prestasi bisa membawanya melanjutkan pendidikan ke sekolah yang diimpikannya.
Dari rumah kayu berukuran 5x3 meter, Zaahira kini menatap masa depan dengan mimpi yang jauh lebih besar. Usianya memang masih muda, tetapi ia sudah memiliki arah dan tekad untuk mengubah hidupnya serta keluarganya.
BERITA TERKAIT: