Merespons situasi krisis tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membunyikan alarm kewaspadaan dan menetapkan empat provinsi sebagai fokus utama penanganan.
Ketua BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta mengungkapkan bahwa Kalimantan Barat saat ini menduduki posisi puncak dengan jumlah titik panas terbanyak. Menempati daftar prioritas selanjutnya adalah wilayah Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur.
“Saat ini terkait dengan analisis titik panas untuk update 19 Agustus, ada empat provinsi yang menjadi prioritas. Yang pertama Kalimantan Barat, kebetulan jumlah hotspot-nya paling banyak ketua. Kemudian Kalimantan Tengah, selanjutnya Papua Selatan dan juga Kalimantan Timur,” kata Faisal dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, dikutip Sabtu 22 Agustus 2026.
Menurut Faisal, kondisi kering masih berpotensi berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. BMKG memperkirakan pertumbuhan awan akan minim di sebagian besar wilayah Indonesia selama 10 hari mendatang.
“Untuk potensi pertumbuhan awan hingga sepuluh hari ke depan ini kami sampaikan bahwa diperkirakan masih minim di sebagian besar Indonesia terutama Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Maluku, dan sebagian Papua,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat risiko kekeringan dan karhutla masih perlu diantisipasi. Faisal mengatakan masyarakat dan pemerintah daerah perlu mewaspadai kondisi cuaca kering sebelum memasuki musim hujan.
BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas yang lebih luas baru mulai terjadi pada pertengahan Oktober. Sementara itu, upaya penanganan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) terus dilakukan di sejumlah wilayah.
“Kalau dari prediksi BMKG Bapak Ketua mohon izin para anggota Komisi V, diperkirakan pada pertengahan Oktober musim hujan baru mulai datang Pak, pertengahan Oktober,” tuturnya.
Faisal menjelaskan OMC tidak hanya ditujukan untuk menangani wilayah yang mengalami karhutla. Operasi tersebut juga dilakukan untuk membantu daerah yang mengalami kekeringan, termasuk mengisi waduk.
“Seluruh operasi modifikasi cuaca di bulan Agustus tidak hanya untuk kebakaran hutan dan lahan di Riau juga kami sampaikan juga ada operasi yang masih berlangsung kemudian untuk Jawa Barat ini untuk pengisian waduk dan juga di IKN untuk pengisian waduk Sepaku Semoi di sana yang juga mulai mengalami kekeringan,” ujarnya.
BERITA TERKAIT: