Setelah Diperam 15 Tahun, “Romansa Gayo dan Bordeaux” Akhirnya Dirilis

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Sabtu, 10 Maret 2018, 01:57 WIB
Setelah Diperam 15 Tahun, “Romansa Gayo dan Bordeaux” Akhirnya Dirilis
Foto: Net
rmol news logo Setelah diperam selama lebih 15 tahun, novel bertajuk “Romansa Gayo dan Bordeaux” karya Win Wan Nur akhirnya diluncurkan.

Buku setebal lebih 400 halaman ini mengulas banyak hal mulai dari kopi, anggur hingga diskriminasi etnis, otoritarianisme pemerintahan Orde Baru (Orba), tragedi G30S PKI, tragedi pembantaian kaum Girondins oleh ‘Reign of Terror’ pasca revolusi Prancis, represi kultural di Gayo dan Prancis, sampai filsafat ketuhanan.

"Akhirnya bisa juga saya terbitkan secara indie publisher," ujar Win Wan Nur yang merasa lega saat peluncuran novelnya di warung kopi Fakultas Kopi di Jakarta, Jumat (9/3).

Pria kelahiran Takengen, Aceh Besar itu tidak menampik jika novel ini dinilai dekat dengan kehidupannya sebagai backpacker.

"Novel ini saya rampungkan dalam beberapa bulan terakhir ini. Saya semakin terpacu untuk segera menerbitkannya karena ada beberapa peristiwa di Aceh saat ini yang konteksnya sangat dengan isi novel ini terkait mayoritas dan minoritas dan rasisme," kata alumni Fakultas Teknik Unsyiah itu.

Dia berharap novel ini dapat memberikan kontribusi kepada seluruh rakyat Indonesia,  utamanya di Aceh untuk tidak membenturkan kelompok-kelompok mayoritas dan minoritas dengan berbagai kepentingan. Karena, pada akhirnya sebagaimana tokoh yang diceritakan dalam novel ini yang mencapai satu kesimpulan bahwa manusia tak peduli apapun latar belakang ras, kultural maupun agama serta kepercayaannya, di mana pun mereka berada secara esensi sama saja.

Empat narasumber hadir membedah novel milih Win Wan Nur dalam acara peluncuran ini. Mereka antara lain, penyair yang juga jurnalis asal Gayo, Fikar W.Eda; mantan Kadis Pariwisata Aceh dan kini menjabat sebagai Asisten Deputi Kementrian Pariwisata, Reza Pahlevi; salah satu tokoh pemuda Aceh, Azmi Abubakar; dan jurnalis asal Aceh yang kini menjabat pemred harian the Jakarta Post, Nezar Patria.

Sampul belakang novel ini berisi komentar dari penulis Balada Si Roy, Gol A Gong yang menyebut bahwa novel Win Wan Nur sangat menarik dibaca karena berisi tentang cinta laki-laki dan perempuan yang dibalut petualangan.

“Cinta lelaki terhadap perempuan dengan bumbu petualangan sangat menarik dibaca. Novel ini saya kira adalah pengalaman hidup penulisnya. Ada eksotisme timur dan gemerlap barat. Ada semangat humanisme universal dengan pesan kuat tentang kesetaraan, semangat anti rasisme dan diskriminasi di sini. Nikmati sambil menyeruput kopi Gayo,” tulis Gol A Gong. [ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA