US Geological Survey (USGS) mengungkap bencana yang menewaskan sedikitnya 160 orang itu terjadi akibat runtuhnya gletser dan longsoran batu serta es dalam skala besar.
Aktivitas seismik yang semula tercatat sebagai gempa berkekuatan 4,4 magnitudo ternyata dihasilkan oleh longsoran batu dan es. USGS kemudian mencatat peristiwa longsoran tersebut berkekuatan 5,2 magnitudo.
Runtuhan itu memicu aliran material bercampur puing yang bergerak deras ke lembah, khususnya di Sungai Lhende, sekitar 20 kilometer dari perlintasan Rasuwagadhi.
Penelitian USGS yang juga merupakan Ahli geologi di Universitas Calgary, Daniel Shugar, memperkirakan bagian gletser yang terlepas memiliki lebar sekitar 2.000 kaki dan jatuh dari ketinggian 17.000 kaki atau lebih dari 5.000 meter.
"Sepertinya gletser di daerah itu pada dasarnya patah," kata Shugar, dikutip dari
The New York Times.Shugar juga memperkirakan besarnya volume air yang dihasilkan dari peristiwa tersebut menunjukkan kemungkinan adanya faktor lain.
Sementara ahli glasiologi University of Dundee, Simon Cook, menggambarkan besarnya energi yang tersimpan di dalam bongkahan es tersebut.
“Ini adalah bongkahan besar es yang tersimpan di ketinggian tinggi di gunung, dengan potensi energi yang sangat besar,” kata dia.
Instrumen seismik mendeteksi pergerakan besar ke arah bawah sekitar pukul 08.40 waktu setempat, yang kemudian segera diikuti sinyal aliran air bergerak cepat.
Analisis citra satelit oleh International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) dan lembaga mitra menunjukkan volume besar batuan dan es masuk ke sungai sehingga menghasilkan gelombang deras ke arah hilir.
Banjir menghancurkan jembatan, merendam desa, serta merusak jalan dan proyek pembangkit listrik tenaga air di sepanjang sistem Sungai Bhote Koshi dan Trishuli.
Lebih dari 400 wisatawan masih dilaporkan hilang di wilayah terdampak.
Para ahli juga mengingatkan potensi gelombang susulan apabila material longsoran masih menyumbat aliran sungai, sementara perubahan iklim dan meningkatnya suhu di Himalaya disebut berpotensi memperbesar risiko runtuhnya gletser.
BERITA TERKAIT: