Bencana alam luar biasa ini meluluhlantakkan permukiman warga dan memutus total jalur transportasi serta infrastruktur vital di kedua sisi perbatasan.
Otoritas setempat melaporkan lebih dari 160 orang tewas serta ratusan lainnya masih hilang akibat terjangan gelombang air berkecepatan tinggi di sepanjang aliran Sungai Bhote Koshi dan Trishuli.
Pemerintah Nepal kini berkejaran dengan waktu untuk melacak keberadaan 579 wisatawan dari berbagai negara yang turut terjebak dalam situasi kritis tersebut.
Sementara itu, di wilayah perbatasan Tibet, pihak berwenang mencatat tiga korban jiwa dan 265 orang hilang di tengah kendala angin kencang dan cuaca ekstrem yang menghambat pergerakan tim penyelamat.
Dampak destruktif tampak nyata dari hancurnya jembatan utama di Trishuli Bazaar serta rusaknya fasilitas penting seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Trishuli.
Perdana Menteri Nepal, Belendra Shah, langsung menggelar rapat kabinet darurat serta mengerahkan personel khusus kepolisian dan militer guna mengevakuasi warga di daerah terisolasi seperti Desa Mailung dan Timure.
Gelombang empati dan dukungan regional juga mengalir deras, termasuk pernyataan solidaritas dari Perdana Menteri India, Narendra Modi.
Mengingat wilayah Rasuwa sebelumnya pernah mengalami bencana serupa akibat pecahnya bendungan glasial, pemerintah kembali mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstrem di tengah ketidakpastian cuaca dan ancaman gempa susulan di kawasan Himalaya.
BERITA TERKAIT: