Diplomat veteran berusia 81 tahun tersebut mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan luka parah akibat serangan yang menghantam kediamannya sembilan hari lalu.
Tragedi ini tidak hanya merenggut nyawa Kharazi, tetapi juga sang istri yang telah lebih dulu wafat di lokasi kejadian saat serangan terjadi pada akhir Maret.
Media pemerintah Iran menyebut Kharazi sebagai “martir”. Teheran menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik serangan tersebut.
Hingga kini, Gedung Putih maupun Tel Aviv belum memberikan konfirmasi resmi. Belum ada kejelasan apakah Kharazi merupakan target utama pembunuhan atau korban dari eskalasi konflik yang lebih luas.
Kematian Kharazi menjadi babak baru dalam ketegangan yang memuncak di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026, menambah daftar panjang petinggi Iran yang gugur dalam konflik terbuka ini.
Kamal Kharazi bukan sekadar pejabat biasa; ia adalah pilar diplomasi Iran modern. Kariernya dimulai setelah Revolusi Islam Iran 1979, ketika ia menjabat berbagai posisi penting, termasuk wakil menteri luar negeri dan juru bicara militer saat Perang Iran-Irak.
Bahkan di usia senjanya, ia tetap memegang peran krusial sebagai Kepala Dewan Strategis Hubungan Internasional.
Kharazi dikenal memiliki posisi tawar yang kuat, terutama terkait isu nuklir. Pada 2022, ia sempat mengguncang dunia internasional dengan pernyataannya bahwa Iran secara teknis mampu membuat bom atom, meski kebijakan untuk memproduksinya belum diambil.
Menjelang akhir hayatnya, Kharazi tetap bersikap realistis namun tegas. Ia sempat menyatakan bahwa meski pintu negosiasi melalui perantara pihak ketiga masih terbuka, peluang untuk berdialog langsung dengan pemerintah AS saat ini nyaris mustahil.
BERITA TERKAIT: