Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial X, Ghalibaf menilai rakyat Iran telah menunjukkan keteguhan luar biasa dalam menghadapi tekanan militer, politik, dan ekonomi selama konflik berlangsung.
Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi faktor penting yang membuat Iran mampu bertahan di tengah situasi yang penuh tantangan. Ia bahkan menyebut perjuangan tersebut sebagai "jihad nasional" untuk menjaga eksistensi dan kedaulatan negara.
"Seratus hari telah berlalu sejak jihad nasional bangkit untuk menjaga urat nadi kehidupan Iran," kata Ghalibaf, dikutip Rabu, 10 Juni 2026.
Ghalibaf juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang tetap bersatu selama masa konflik. Ia menilai solidaritas rakyat telah memperkuat posisi Iran sekaligus menggagalkan upaya pihak-pihak yang ingin melemahkan negara tersebut.
"Salam Tuhan bagi kalian yang telah menguatkan punggung Iran, membuat musuh putus asa, dan menarik negara ini keluar dari rahang serigala-serigala ganas yang memperlihatkan taring mereka untuk memaksa Republik Islam Iran tunduk," ujarnya.
Selain kepada masyarakat, Ghalibaf memberikan penghormatan kepada pasukan militer, aparat keamanan, serta seluruh pihak yang mendukung pemerintah selama konflik berlangsung. Menurutnya, persatuan nasional yang terbentuk dalam beberapa bulan terakhir menjadi modal penting bagi Iran untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Ia menegaskan bahwa tekanan dari luar justru memperkuat solidaritas nasional. Karena itu, Iran tidak akan menyerah pada ancaman maupun tekanan dari pihak mana pun.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Hubungan ketiga pihak terus memanas setelah serangkaian serangan dan aksi balasan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Menutup pernyataannya, Ghalibaf kembali menegaskan dukungannya terhadap semangat perlawanan rakyat Iran.
"Hidup Iran, dan hidup perlawanan bangsa Iran yang agung," katanya.
BERITA TERKAIT: