Hal itu disampaikan Guterres dalam konferensi pers di Beirut pada Sabtu waktu setempat, 14 Maret 2026, di tengah meningkatnya serangan Israel ke sejumlah wilayah Lebanon.
Menurutnya, rakyat Lebanon kini terseret dalam pusaran konflik yang terus meluas di kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan, hanya jalan diplomasi yang dapat ditempuh agar negara itu tidak hancur akibat perang.
"Tidak ada solusi militer, hanya diplomasi. Lebanon Selatan berisiko menjadi tanah tandus. Beirut selatan, yang berada di bawah perintah evakuasi besar-besaran oleh Israel, berisiko dibom hingga hancur lebur," tegasnya, seperti dikutip dari
Al Jazeera.
Dalam kunjungannya ke Beirut, Guterres juga menggalang bantuan darurat sebesar 325 juta dolar AS untuk membantu lebih dari 800 ribu warga yang mengungsi di dalam negeri sejak konflik memanas pada 2 Maret.
Gelombang pengungsian tersebut terjadi setelah kelompok bersenjata Lebanon Hezbollah menyerang Israel sebagai respons atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei oleh Amerika Serikat dan Israel.
Menanggapi perintah evakuasi massal yang dikeluarkan Israel dan kini mencakup sekitar 14 persen wilayah Lebanon, Guterres menegaskan bahwa setiap langkah militer harus tetap menjamin keselamatan warga sipil.
“Apa pun yang tidak menciptakan keamanan yang cukup bagi warga sipil pasti akan melanggar hukum humaniter internasional,” ujarnya.
Di lapangan, militer Israel terus menggempur wilayah selatan Lebanon dan pinggiran selatan Beirut.
Serangan terbaru dilaporkan menewaskan satu keluarga beranggotakan empat orang di kota Sidon serta seorang warga dalam serangan terhadap bangunan permukiman di Bourj Hammoud di timur Beirut.
BERITA TERKAIT: