Ia pun mendesak Rusia agar segera mundur dan mengancam akan memberikan sanksi ekonomi yang lebih menyakitkan dari sebelumnya.
“Kami sangat prihatin dengan bukti bahwa Rusia telah membuat rencana untuk tindakan agresif yang signifikan terhadap Ukraina, rencana tersebut mencakup upaya untuk mengacaukan Ukraina dari dalam serta operasi militer skala besar,†ujar Blinken, dalam pertemuan para menteri luar negeri NATO di ibu kota Latvia, Riga.
Ia mengaku tidak mengetahui dengan pasti apakah Presiden Rusia Vladimir Putin telah membuat keputusan untuk menyerang. Namun, ia tahu bahwa Putin memiliki kapasitas tersebut dan bisa saja menyerang dalam waktu dekat.
Jika Moskow tidak segera menarik mundur pasukannya dan menyelesaikan konflik dengan diplomasi, maka "akan ada konsekuensi jangka panjang bagi Moskow," kata Blinken, seperti dikutip dari
Reuters. Blinken menyebut bahwa pihak AS telah menyampaikan kepada Kremlin mengenai 'peringatan keras' itu.
Komentar Blinken muncul setelah Ukraina mengungkapkan bahwa ada penumpukan pasukan baru Rusia di sekitar perbatasan Ukraina yang memicu gesekan. Bukan tidak mungkin akan terjadi pertempuran yang jauh lebih besar dari yang sudah-sudah.
Rusia, yang merebut Krimea dari Ukraina pada 2014 dan mendukung separatis yang memerangi Kiev, membantah keras pihaknya merencanakan serangan dan menyalahkan NATO karena memicu ketegangan.
NATO, melalui Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg telah memberi peringatan kepada Kremlin bahwa setiap agresi Rusia di masa depan terhadap Ukraina akan menimbulkan konsekuensi politik dan ekonomi yang serius.
Berbicara di acara yang sama dengan Blinken di Riga, Stoltenberg mengatakan bahwa NATO memiliki banyak cara untuk menghalangi Rusia dan menghukumnya dengan banyak sanksi.
"Dukungan NATO untuk integritas teritorial Ukraina tetap tak tergoyahkan, Kiev adalah mitra dekat dan sangat dihargai," katanya.
BERITA TERKAIT: