Dalam wawancara dengan
CNN, Zelensky mengatakan hingga kini belum ada gangguan dalam pasokan maupun dukungan intelijen, meski jumlah persenjataan yang diterima masih terbatas.
Dijelaskan bahwa Ukraina memperoleh akses terhadap senjata AS melalui program PURL, yang memungkinkan negara-negara NATO membiayai pembelian persenjataan untuk Kyiv.
“Melalui program ini, kita dapat menyertakan dan membeli rudal anti-balistik untuk sistem Patriot dan beberapa senjata lainnya yang sangat penting bagi kita. Kita tidak memiliki ini dengan negara-negara tetangga Eropa kita,” ujarnya, seperti dikutip pada Kamis, 23 April 2026.
Namun, Zelenky mengingatkan bahwa eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, dapat mengancam keberlanjutan paket bantuan tersebut.
“Dan tentu saja, (mengingat) tantangan besar dalam perang Timur Tengah dan Iran, semua paket ini berisiko," kata dia.
Menurut Zelensky, keterbatasan produksi di Amerika Serikat juga menjadi faktor yang membuat pasokan sistem pertahanan tidak bisa diberikan dalam jumlah besar.
Menurutnya, jika perang terus berlanjut atau gencatan senjata tertunda, maka risiko terhadap kemampuan pertahanan Ukraina akan semakin meningkat.
“Dan jika perang berlanjut atau gencatan senjata tertunda, (ini) tidak akan baik. Dan mungkin kita akan menghadapi lebih banyak risiko dengan senjata anti-balistik," tegasnya.
Selain itu, Zelensky juga menyebut Ukraina siap berbagi pengalaman dalam menghadapi serangan drone dengan negara-negara Timur Tengah, termasuk melalui kerja sama dengan Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
“Kami akan terus bekerja sama dengan negara-negara lain. Kami akan siap untuk memberikan keahlian kami terlebih dahulu, dan poin kedua adalah misi pelatihan," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: