"Kami sangat prihatin mengetahui bahwa seorang warga negara Selandia Baru termasuk dalam insiden mengerikan yang melibatkan penumpang wanita di beberapa penerbangan Qatar Airways," kata kementerian luar negeri dalam sebuah pernyataan Kamis malam waktu setempat, seperti dikutip dari
AFP, Jumat (30/10).
"Tindakan ini benar-benar tidak dapat diterima. Kami menyampaikan pandangan kami kepada otoritas Qatar dan sedang mencari laporan lengkap tentang apa yang terjadi," lanjutnya.
Wanita dalam 10 penerbangan keluar dari Doha menjadi sasaran pemeriksaan ketika pihak berwenang di negara Teluk yang dikenal sangat konservatif itu mencari ibu dari bayi yang baru lahir yang ditinggalkan di kamar mandi bandara.
Pernyataan kementerian luar negeri tidak memberikan rincian tentang siapa wanita Selandia Baru yang terlibat, dengan alasan masalah privasi.
Sebelumnya pemerintah Qatar mengatakan pada Rabu, bahwa pihaknya 'menyesali segala kesusahan' atas insiden yang terjadi pada awal Oktober itu, tetapi baru terungkap minggu ini setelah penumpang Australia yang terkena dampak angkat bicara.
Australia sejak itu mengatakan 13 warganya menkadi korban pemeriksaan 'mengerikan'. Sementara itu, Inggris mengatakan pihaknya memberikan dukungan untuk dua wanita dan AFP telah mengetahui seorang wanita Prancis juga terpengaruh.
Dalam kejadian pertamanya, Qatar mengatakan bayi perempuan itu dibungkus plastik dan dibiarkan mati di tempat sampah kamar mandi, mendorong apa yang dikatakan sumber sebagai penguncian bandara.
Sejumlah penumpang wanita kemudian dibawa dari pesawat ke ambulans di landasan tempat mereka menjalani pemeriksaan serviks untuk melihat apakah mereka baru saja melahirkan.
Qatar telah meluncurkan penyelidikan atas insiden tersebut, yang melibatkan wanita dalam 10 penerbangan, dan sumber mengatakan mereka yang terlibat dapat menghadapi tuntutan pidana.
BERITA TERKAIT: