Dilansir dari Al-Jazeera, bentrokan antara warga dan aparat keamanan menewaskan sedikitnya tujuh orang.
Aparat keamanan juga menangkap 30 orang yang dinilai mengganggu ketertiban umum.
Aksi protes ini bermula pada Minggu, 28 Desember 2025 dan berlanjut hingga Kamis, 1 Januari 2025.
Rekaman video yang beredar menunjukkan pasukan keamanan menembakkan senjata ke arah pengunjuk rasa saat kerumunan berlarian di jalanan yang dipenuhi asap.
Seorang saksi mata menyampaikan kepada Guardian bahwa situasi demonstrasi bak medan perang.
"Ini medan perang di sini dan mereka (pasukan keamanan) menembak tanpa ampun," ujarnya, dikutip Jumat, 2 Januari 2026.
Direktur Pelaksana Pusat Hak Asasi Manusia Abdorrahman Boroumand di Iran, Roya Boroumand, menilai kemarahan publik dipicu langsung oleh penurunan nilai mata uang dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
"Mereka marah atas salah urus dan korupsi negara, serta kebijakan-kebijakan yang menyebabkan penderitaan di dalam negeri," tuturnya.
Boroumand juga menyoroti pola berulang antara ledakan protes dan penindakan keras aparat.
"Negara menganggap setiap protes yang anti-pemerintah sebagai tindakan ilegal dan hukum sebenarnya tidak membuka ruang bagi protes yang sah. Itulah mengapa kita melihat pola ledakan massa dan penindakan yang mematikan," katanya.
BERITA TERKAIT: