Mata uang Negeri Paman Sam ini berhasil bangkit dari penurunan tahunan terdalamnya sejak 2017 yang mencapai lebih dari 9 persen.
Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kinerja Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang, naik 0,24 persen ke level 98,48, memberikan napas lega bagi investor di tengah volume perdagangan yang tipis karena tutupnya pasar Jepang dan China.
Penguatan ini terjadi saat pelaku pasar bersiap menghadapi rangkaian data ekonomi penting, terutama laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis Jumat depan. Data ini dianggap vital untuk menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Saat ini, pasar dan bank sentral masih mengalami silang pendapat. Pasar tengah memperhitungkan peluang dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, sementara dari internal The Fed terjadi keputusan yang terbelah dan cenderung memproyeksikan hanya satu kali pemangkasan.
"Ini akan menjadi masa untuk benar-benar melakukan banyak penilaian. Kami tidak akan mendapatkan pertemuan The Fed hingga akhir bulan, dan saat ini belum ada konsensus," ujar Juan Perez, Direktur Perdagangan Monex USA, dikutip dari Reuters.
Masa depan Dolar AS juga dibayangi oleh berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei mendatang. Presiden Donald Trump dijadwalkan akan mengumumkan kandidat pilihannya bulan ini, yang diprediksi pasar akan mendukung kebijakan suku bunga rendah (dovish).
Analis Goldman Sachs mencatat bahwa isu independensi bank sentral tetap menjadi risiko utama bagi pergerakan dolar sepanjang 2026. Pergantian kepemimpinan ini akan menjadi salah satu faktor penentu apakah tren suku bunga AS akan turun lebih cepat dari perkiraan semula.
Kebangkitan Dolar secara otomatis menekan mata uang rivalnya.
Euro turun 0,25 persen ke 1,1716 Dolar AS, menyusul data manufaktur zona Euro yang melemah.
Pound Sterling terkoreksi 0,18 persen ke 1,3445 Dolar AS.
Yen Jepang melemah 0,16 persen ke level 156,91 per dolar, mendekati titik terendahnya dalam 10 bulan terakhir.
BERITA TERKAIT: