Â
Hal itu dipastikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam sebuah wawancara dengan surat kabar
Moskovsky Komsomolets dan dimuat ulang
Russia Today (Rabu, 3/4).
Â
"Kami tidak menerima metode yang digunakan Amerika Serikat untuk meningkatkan kehidupan rakyat Venezuela," kata Lavrov.
Â
Diketahui bahwa Amerika Serikat mendukung pemimpin oposisi, Juan Guaido, yang menyatakan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela pada Januari lalu.
Â
Amerika Serikat juga memperkenalkan sanksi ekonomi baru terhadap Venezuela serta mencegahnya mengimpor makanan dan pasokan medis.
Â
Bahkan Amerika Serikat pun mengancam akan melakukan "intervensi kemanusiaan" Venezuela untuk menyingkirkan Presiden Nicolas Maduro, dari kekuasaan.
Â
Lavrov menekankan bahwa negara-negara di benua itu yang menentang Maduro, tidak setuju jika Amerika Serikat menyebutkan penggunaan kekuatan.
Â
"Saya jamin bahwa jika ada upaya intervensi militer, sebagian besar negara bagian Amerika Latin akan langsung menolaknya," kata Lavrov.
Â
Dia menambahkan bahwa terlepas dari retorika yang kuat dari Washington, Lavrov menekankan bahwa krisis Karibua tidak akan terjadi.
Â
"Juga tidak ada pembicaraan tentang Suriah kedua di Venezuela," sambungnya.
Â
Krisis Karibia diketahui pernah membuat Amerika Serikat dan Uni Soviet berada di ambang perang nuklir pada tahun 1962 setelah Moskow menempatkan misil-misilnya di Kuba sebagai tanggapan terhadap Washington yang menyebarkan rudal balistik di Italia dan Turki.
BERITA TERKAIT: