Para demonstran terus membanjiri perbatasan Gaza dan Israel di hari pembukaan Kedubes AS di Yerusalem, kemarin. Pembukaan Kedubes bertepatan dengan 70 tahun peringatan berdirinya Israel. Warga Palestina sebenarnya sudah menggelar aksi semacam ini setiap Jumat sejak Maret lalu.
Militer Israel mengatakan ada sekitar 10 ribu orang yang berkumpul di sepanjang perbatasan Jalur Gaza dan ribuan lainnya yang berkumpul di tenda-tenda yang berjarak sekitar 500 meter dari pagar keamanan. Militer Negeri Bintang Daud itu mengerahkan sekitar 1.000 personel untuk berjaga di sekitar Kedutaan AS menjelang peresmian.
Jumlah pengamanan itu hampir dua kali lipat dikerahkan di perbatasan Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel. Beberapa jam sebelum jadwal kedutaan itu dibuka pukul 4 sore waktu setempat, bentrokan terjadi. Para demonstran melempari pagar perbatasan dengan batu dan mencoba menerobos. Sementara di sisi lain perbatasan, pasukan sniper alias penembak jitu dari militer Israel telah bersiap. Dor, dor, dor, rentetan desing peluru menyalak. Puluhan demonstran rebah ke tanah, bersimbah darah.
Dikutip dari
AFP, sejumlah pejabat kesehatan Gaza menyebut 37 warga Palestina dilaporkan tewas. Korban tewas di antaranya remaja putra berusia 14 tahun dan seorang pria berkursi roda. Banyaknya jumlah korban tewas ini menjadikan aksi unjuk rasa sebagai yang paling berdarah sejak perang Gaza pada 2014.
Kementerian Kesehatan Palestina menyebut, 900 demonstran lainnya mengalami luka terkena tembakan peluru tajam dan peluru karet. Sementara, organisasi persatuan wartawan di Gaza menyebut di antara korban luka merupakan delapan jurnalis.
Pemerintah Otoritas Palestina di Ramallah, Tepi Barat, mengeluarkan pernyataan menuduh Israel melakukan pembantaian mengerikan. Sementara tentara Israel menyebut mereka sudah bertindak sesuai prosedur. Dalam pernyataannya, militer Israel menegaskan personelnya mempertahankan perbatasan dengan melepas tembakan sesuai aturan pertempuran.
Meski korban terus berjatuhan, demonstran tak menurunkan tensi aksi unjuk rasa. Bahkan bukan hanya laki-laki yang ikut berdemonstrasi, tapi juga perempuan. Bilal Fasayfes (31) bersama istri dan dua anaknya ikut berdemonstrasi di Khan Yunis. "Sekalipun setengah dari kami tewas, kami tidak peduli. Kami akan terus berjuang, jadi setengah yang lainnya bisa hidup dalam kehormatan," ujarnya dikutip dari
AFP. Usaha para demonstran ini tak berhasil menggagalkan pembukaan Kedubes AS di Yerusalem. Pemutaran video rekaman yang berisi ucapan dari Presiden AS Donald Trump mengawali detik-detik jelang peresmian kedutaan tersebut. "Hari ini kami meresmikan Kedutaan AS di Yerusalem, selamat!," ujar Trump dalam rekaman video yang diputar pada seremoni tersebut, seperti dikutip dari tayangan
live streaming The Washington Post, kemarin.
Sementara peresmian langsung di Yerusalem dipimpin Ivanka Trump, yang merupakan penasihat senior Gedung Putih. Sebelum kata resmi diucapkan oleh Ivanka, Menkeu AS lebih dulu menyibak tirai yang dibaliknya menunjukkan papan penanda kedutaan. "Mewakili presiden ke-45 AS, kami menyambut Anda secara resmi dan untuk pertama kalinya di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem, ibu kota Israel," tutur Ivanka. Riuh tepuk tangan hadirin bergemuruh pada seremoni peresmian pembukaan Kedutaan AS di Yerusalem tersebut. Selain pejabat AS, acara peresmian itu juga dihadiri Presiden Paraguay Horacio Cartes dan Presiden Guatemala Jimmy Morales. Banyak misi diplomatik negara-negara yang menolak hadir dalam peresmian Kedubes AS. ***
BERITA TERKAIT: