Mengutip laporan
Reuters, Minggu, 12 April 2026, tiga sumber yang dekat dengan lingkaran dalam kekuasaan menyebut wajah Mojtaba mengalami cacat dan cedera parah pada satu atau kedua kakinya setelah serangan yang terjadi pada hari pertama konflik, 28 Februari.
Meski mengalami luka berat, pria berusia 56 tahun itu disebut masih dalam tahap pemulihan dan tetap menjalankan fungsi kepemimpinan dalam kapasitas yang terbatas.
"Sedang dalam masa pemulihan dari luka-lukanya dan tetap memiliki ketajaman mental yang terjaga," ungkap laporan tersebut.
Mojtaba diketahui mengikuti pertemuan dengan pejabat senior melalui konferensi audio dan tetap terlibat dalam pengambilan keputusan strategis, termasuk terkait perang dan negosiasi dengan Washington.
Namun, kondisi dan keberadaannya masih menjadi misteri bagi publik. Tidak ada foto, video, atau rekaman suara yang dirilis sejak serangan tersebut maupun sejak ia ditunjuk sebagai pengganti ayahnya pada 8 Maret.
Pernyataan pejabat Amerika Serikat turut memperkuat laporan itu. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada 13 Maret mengatakan Mojtaba terluka dan kemungkinan cacat, sementara sumber intelijen AS menyebut ada kemungkinan ia kehilangan satu kaki.
BERITA TERKAIT: