Dialog tingkat tinggi itu dimediasi oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dengan harapan membuka jalan bagi penghentian konflik yang kian meluas.
"Percakapan ini akan mencakup dialog yang sedang berlangsung tentang bagaimana memastikan keamanan jangka panjang perbatasan utara Israel dan untuk mendukung tekad pemerintah Lebanon untuk merebut kembali kedaulatan penuh atas wilayahnya," ungkap Sumber Departemen Luar Negeri AS, seperti dikutip dari
AFP.
Namun, perundingan ini langsung dihadapkan pada penolakan keras dari kelompok Hezbollah.
Pemimpinnya, Naim Qassem, bahkan menyerukan agar dialog tersebut dibatalkan dan menegaskan pihaknya tidak akan mematuhi kesepakatan apa pun yang dihasilkan.
Ketegangan antara kedua negara memang telah memuncak sejak awal Maret, ketika serangan Hezbollah ke wilayah Israel memicu balasan militer besar-besaran.
Serangan udara Israel, termasuk gempuran hebat di Beirut pada 8 April, dilaporkan menewaskan lebih dari 2.000 orang serta menyebabkan lebih dari satu juta warga kehilangan tempat tinggal.
Juru bicara Israel Shosh Bedrosian menegaskan bahwa dialog dengan pemerintah Lebanon bertujuan melucuti senjata Hizbullah dan mengusir mereka dari Lebanon.
“Kami tidak akan membahas gencatan senjata dengan Hizbullah, yang terus melakukan serangan tanpa pandang bulu terhadap Israel dan warga sipil kami," tegasnya.
Kemudian Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut menegaskan tuntutan serupa.
“Kami menginginkan pelucutan senjata Hizbullah, dan kami menginginkan perjanjian perdamaian sejati yang akan berlangsung selama beberapa generasi,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun berharap jalur diplomasi tetap dapat menghasilkan terobosan.
BERITA TERKAIT: