Pasalnya, Riyadh memimpin blokade di Qatar, sedangkan Ankara mengirim pasukan ke negara kecil tersebut.
Arab Saudi, Bahrain, Mesir, dan Uni Emirat Arab memutuskan hubungan dengan Qatar pada 5 Juni, yang secara resmi menuduh Doha mendukung terorisme dan mendestabilisasi wilayah tersebut, tuduhan yang dengan tegas ditolak oleh Qatar.
Turki pada awalnya bersikap netral dalam perselisihan namun segera menjadi lebih tegas dalam mendukung Doha. Pada tanggal 7 Juni, parlemen Turki menyetujui pengerahan pasukan ke sebuah pangkalan militer Turki di Qatar.
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu tiba di Arab Saudi pada hari Jumat pekan lalu dalam upaya untuk meredakan krisis diplomatik yang berkembang di kawasan Teluk Persia, namun kunjungan tersebut membuka celah mereka yang menganga.
Pada hari Sabtu, Arab Saudi mengatakan sebuah pangkalan militer Turki tidak akan diterima di tanah kerajaan setelah Ankara menawarkan untuk membangun fasilitas semacam itu.
"Arab Saudi tidak dapat membiarkan Turki membangun pangkalan militer di wilayahnya," kata sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh badan resmi Saudi Press Agency.
Pengumuman tersebut dibuat sebagai tanggapan atas ucapan Erdogan, yang mengatakan bahwa dia telah menawarkan untuk membangun sebuah pangkalan di Arab Saudi dengan gagasan yang sama seperti basis militer Turki di Qatar. Erdogan mengatakan Raja Salman setuju untuk mempertimbangkan tawaran tersebut. Demikian seperti dimuat
Press TV.
[mel]
BERITA TERKAIT: