Ia mengantongi lebih dari 21 persen suara dalam pemilu putaran pertama akhir pekan kemarin. Hanya tertinggal sekitar dua persen dari pesaing terberatnya, Emmanuel Macron.
Pendukungnya mengakui bahwa Le Pen menghadapi tantangan berat, dengan saingannya yang merupakan kandidat termuda yang lebih mudah menarik spektrum pemilih yang lebih luas.
Terlebih Le Pen terjerat sejumlah isu, terutama skandal pendaan. Hal itu juga ikut mempengaruhi perolehan suaranya.
Namun demikian, dalam enam tahun terakhir, Le Pen mengubah partainya menjadi kekuatan yang didorong oleh jenis anti-globalisasi. Ia tegas mendorong pemungutan suara Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa serta terang-terangan mendukung Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat.
Le Pen telah memperkirakan Uni Eropa "akan mati" dan telah bersumpah untuk membawa Prancis keluar dari euro dan mengadakan referendum mengenai keanggotaan serikat tersebut.
Dalam pemilihan presiden terakhir di 2012 Le Pen menempati posisi ketiga dengan hanya mengantongi suara di bawah 18 persen.
Pada jejak kampanye tahun ini, dia kembali ke dasar-dasar partai tersebut, mengatakan bahwa Prancis tidak bertanggung jawab atas penggusuran 13.000 orang Yahudi yang terkenal di Paris selama Perang Dunia II.
[mel]
BERITA TERKAIT: