Ia menambahkan bahwa bom non-nuklir paling kuat yang pernah digunakan AS dalam perang itu merupakan senjata yang tepat untuk menargetkan kelompok militan ISIS di provinsi Nangarhar.
Ia mengklaim bahwa bom berhasil menghancurkan terowongan dan gua tempat persembunyian.
"Musuh telah membangun bunker, terowongan dan memperluas lahan tambang dan senjata ini digunakan untuk mengurangi hambatan sehingga kita bisa melanjutkan serangan ke Nangarhar," jelasnya seperti dimuat
BBC akhir pekan ini.
Menurut keterangan resmi dari militer Afghanistan, serangan itu berhasil membunuh 36 orang militan.
Baik pihak Afghanistan maupun Amerika Serikat sama-sama mengkalim tidak ada warga sipil yang tewas dalam serangan.
Diketahui bahwa MOAB atau yang dikenal sebagai "ibu dari segala bom" dijatuhkan AS pada Kamis malam oleh MC-130 pesawat angkut. Bom jatuh di distrik Achin Nangarhar. [mel]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: