Menurut keterangan Kementerian Dalam Negeri Mesir, Jurnalis wanita bernama Mayada Ashraf tersebut tewas tertembak di kepala ketika tengah meliput kerusuhan yang melibatkan pasukan keamanan Mesir dengan massa yang menolak keputusan kepala militer Mesir Abdel Fattah El-Sisi untuk menanggalkan jabatan militernya dan mencalonkan diri sebagai presiden.
Ashraf sendiri merupakan jurnalis yang bekerja untuk surat kabar Mesir, Al-Dustour.
Koordinator Komite Perlindungan Jurnalis Timur Tengah dan Afrika Utara, Sherif Mansour meminta pemerintah Mesir untuk membuka penyelidikan secara independen dan tidak memihak terkait tewasnya Ashraf. Ia menyebut bahwa kedua belah pihak yang terlibat dalam kerusuhan saling menyalahkan atas tewasnya Ashraf.
"Kematian jurnalis seharusnya tidak digunakan untuk menyelesaikan dendam politik, (melainkan) harus fokus pada hak jurnalis untuk meliput kejadian di Mesir dengan aman," kata Mansour.
Al Jazeera menyebut bahwa protes serta kerusuhan serupa terjadi di sejumlah wilayah di Mesir sepanjang hari Jumat kemarin.
Massa yang menentang pencapresan El-Sisi merupakan pendukung Ikhwanul Muslimin yang juga merupakan pendukung presiden terguling, Mohamed Morsy.
El-Sisi merupakan tokoh yang mendukung keputusan militer untuk menggulingkan Morsy dari kursi presiden pada Juli tahun lalu setelah protes terhadap pemerintah Mesir bermunculan.
El-Sisi pada Rabu (26/3) kemarin membuat pengumuman mengenai pengunduran dirinya dari jabatan militer untuk maju sebagai capres yang akan bertarung pada pemilu Mesir yang diprediksi akan digelar akhir tahun ini.
[mel]
BERITA TERKAIT: