Ketegangan Meningkat, Korsel Tambah Jumlah Kapal Penghancur

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Selasa, 10 Desember 2013, 13:22 WIB
Ketegangan Meningkat, Korsel Tambah Jumlah Kapal Penghancur
foto: net
rmol news logo Korea Selatan akan menambah tiga kapal penghancur Aegis demi meningkatkan patroli dan menekan ancaman di zona identifikasi pertahanan udara yang baru dideklarasikan.

Kepala Staf Gabungan Korea Selatan atau Joint Chiefs of Staff (JCS), Choi Yun-hee, seperti dikabarkan Yonhap, akan menerima rencana penambahan kapal tersebut hari ini (Selasa, 10/12).

Penambahan kapal tersebut melengkapi tiga kapal serupa yang telah dibuat sebelumnya. Tujuan penambahan jumlah kapal penghancur tersebut untuk memperkuat pertahanan Korea Selatan dalam ketegangan di Semenanjung Korea dan juga perlindungan dari negara-negara tetangganya di Asia.

Choi Yun-hee akan memimpin pertemuan hari ini dengan para pejabat senior untuk menyelesaikan rencana menambah tiga kapal perusak Aegis 7.600 ton untuk operasional antara tahun 2023 dan 2027 dengan perkiraan anggaran produksi kapal adalah 4 triliun won atau sekitar US$ 3,8 miliar.

Korea Selatan sebelumnya telah mengoperasikan tiga kapal penghancur Aegis dilengkapi dengan peluru kendali. Kapal tersebut diproduksi bersama oleh perusahaan Korea Selatan, Hyundai Heavy Industries Co dan perusahaan Amerika Serikat, Lockheed Martin.

Keputusan penambahan kapal perusak dibuat tak lama setelah Korea Selatan mengumumkan zona identifikasi pertahanan udara yang baru pada Minggu lalu (8/12). Zona pertahanan baru tersebut memperluas wilayah perairan Korea Selatan yang mencakup wilayah karang dan pulau-pulau lainnya di lepas pantai selatan Semenanjung Korea. Langkah tersebut merupakan respons atas keputusan China yang menentapkan zona identifikasi pertahanan udara baru pada 23 November lalu, yang tumpang tindih dengan wilayah Jepang dan Korea Selatan.

Angkatan Laut telah meminta penambahan kapal perusak Aegis sejak setahun lalu, namun permintaan tersebut baru bisa dipenuhi bulan ini karena meningkatnya ketegangan di Asia Timur menyangkut sengketa teritorial wilayah perairan tersebut. [ald]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA