Presiden Obama mengadakan pertemuan dengan PM Israel mengenai hubungan antara Israel dan Palestina di Washington. Dalam pertemuan tersebut Obama mengatakan tujuan akhir yang ingin dicapai Amerika Serikat di Timur Tengah adalah Israel bisa hidup berdampingan dengan aman bersama warga Palestina. Perdamaian di Timur Tengah, menurut Obama bisa terwujud, jika Palestina bisa berdiri sebagai sebuah negara yang merdeka.
Obama juga mengusulkan batas wilayah negara Palestina harus didasarkan pada perbatasan yang ada sebelum perang Arab-Israel 1967. Selain itu perjanjian damai juga harus mencakup pertukaran tanah yang disepakati bersama untuk menciptakan negara Palestina yang layak dan Israel yang aman.
Para perunding perdamaian Timur Tengah dari kelompok Kuartet yang terdiri dari AS, Rusia, Uni Eropa dan PBB menyatakan dukungan kuatnya terhadap visi Presiden Obama itu.
"Kuartet setuju terhadap kemajuan keamanan (Timur Tengah) yang memberi dasar bagi Israel dan Palestina untuk mencapai resolusi akhir dari konflik melalui negosiasi serius dan substantif dan kesepakatan bersama mengenai semua masalah inti," kata Kelompok Kuartet tersebut dalam sebuah pernyataan yang dikutip
Aljazeera (Minggu, 21/5).
Meski mendapat dukungan dari kelompok Kuartet, pendapat Obama ini ditolak oleh Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu. Netanyahu menolak negara Palestina yang didasarkan pada perbatasan yang ada sebelum perang Arab-Israel 1967. Menurutnya, Israel siap untuk "bermurah hati" terhadap pembentukan negara Palestina bagi perdamaian di Timur Tengah, namun tidak dengan perbatasan sebelum 1967.
Menurutnya, pendapat Obama hanyalah suatu upaya utopis untuk menciptakan perdamaian Timur Tengah. Palestina, lanjut Netanyahu, harus menerima realitas yang ada dan melihat kembali perubahan demografis kedua negara.
"Mereka tidak memperhitungkan perubahan demografis tertentu atas dasar yang telah terjadi selama 44 tahun terakhir," ujar Netanyahu seperti dilansir
BBCBaik Obama maupun Netanyahu menolak keterlibatan Hamas dalam negosiasi perdamaian dan hanya mengakui kelompok faksi Fatah dan Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas dalam bernegosiasi. Menurut mereka Hamas adalah Al Qaeda versi Palestina karena selalu melakukan teror di Israel.
[ald]
BERITA TERKAIT: