Biru yang Menari

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/ak-supriyanto-5'>AK SUPRIYANTO</a>
OLEH: AK SUPRIYANTO
  • Jumat, 01 Mei 2026, 22:20 WIB
Biru yang Menari
Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memperlihatkan lukisan pantai. (Foto: Istimewa)
PAGI itu, biru menyergapku tanpa permisi.

Dua puluh lima tahun adalah gurun yang cukup luas untuk menenggelamkan seluruh pameran seni yang pernah kusinggahi. Aku telah menjadi asing pada diriku sendiri pada lelaki muda yang dulu mencintai garis, mencumbui tekstur, dan meniduri warna dengan kata-kata. 

Jurnalisme budaya telah lama kutinggalkan, seperti kanvas yang tertutup debu di sudut gudang ingatan. Menjadi dosen dengan isu-isu di luar seni adalah pilihan yang kuhormati, tapi juga yang diam-diam memutus urat-urat estetik dalam diriku.

Lalu pagi di Hyatt Jogja itu datang. Andi Arief mengundang sarapan, dan tak ada firasat apa pun bahwa aku akan dipertemukan kembali dengan separuh jiwaku yang hilang. Dua lukisan SBY terpampang di sana, dan tiba-tiba saja aku seperti ditampar oleh pigmen-pigmen yang hidup. 

Dominasi biru yang bukan sekadar biru itu adalah biru yang menari. Guratan-guratan tegas nan ritmis menyapu kanvas dengan energi yang tak bisa ditawar. Ada warna-warni yang berpesta, tapi bukan pesta yang mabuk; ini dansa yang sadar, yang tahu ke mana arah setiap gores akan bermuara.

Aku tertegun.

Adakah yang lebih ajaib daripada menyaksikan seorang mantan presiden yang kita kenal sebagai negarawan dengan beban sejarah di pundaknya—tiba-tiba membebaskan diri ke dalam abstraksi yang ceria? 

Goresannya lugas, tak ragu, seperti seseorang yang telah melewati begitu banyak badai dan kini memilih untuk menari di atas hujan. Ceria. Kata itu sederhana, tapi dalam seni, keceriaan yang autentik adalah kemewahan spiritual yang tak semua pelukis bisa hadirkan tanpa menjadi naif. 

SBY tidak naif; ia memilih untuk gembira. Dan pilihan itu adalah pernyataan filosofis: bahwa setelah semua luka dan drama kekuasaan, manusia boleh memilih warna-warni sebagai bentuk kemenangan.

Aku teringat kembali pelajaran lama yang dulu kukecap sebagai jurnalis seni rupa: bahwa garis adalah denyut nadi pelukisnya, warna adalah detak jantungnya, dan tekstur adalah napas yang membekas di permukaan kanvas. 

Pada lukisan SBY yang kusaksikan itu, aku melihat seorang manusia yang sedang merayakan hidup. Bukan realisme pemandangan alam yang biasa kulihat dari koleksi-koleksinya terdahulu—yang ekspresif tapi masih berpijak pada bentuk-bentuk yang kita kenali. 

Kali ini, abstraksi-lah yang berbicara. Dan abstraksi selalu menuntut keberanian: keberanian untuk tidak menjelaskan apa-apa, namun merasakan segalanya.

Di situlah letak kebangkitanku. Bukan pada lukisannya semata, melainkan pada getar yang ia ciptakan di dalam dadaku. Apresiasi, kata itu berasal dari bahasa Latin appretiare, yang berarti menetapkan nilai, menghargai. 

Dan aku, yang selama seperempat abad mematikan diri dari menghargai keindahan visual, tiba-tiba dihidupkan kembali oleh sapuan kuas yang lahir dari tangan seorang negarawan. 

Bukankah ini paradoks yang memesona? Bahwa kebangkitan estetikaku justru dipantik oleh seseorang yang sepanjang hidupnya bergelut dengan hal-hal yang mungkin jauh dari seni politik, diplomasi, kekuasaan namun di masa senjanya justru menciptakan ruang bagi keindahan untuk bernapas.

SBY Art Community (Komunitas Seni SBY). Aku mendengar tentang itu dan sesuatu yang hangat menjalar di dadaku. Ini bukan sekadar klub hobi pensiunan. Ini adalah upaya membangun ekosistem apresiasi—sesuatu yang sering kita lupakan di negeri yang lebih sibuk membangun infrastruktur fisik ketimbang infrastruktur rasa. 

Republik kita, dengan segala cita-cita mulianya, sering lupa bahwa tujuan bernegara bukan hanya membangun "badan" tapi juga "jiwa". Dan jiwa sebuah bangsa, siapakah yang merawatnya kalau bukan seni?

Ingatanku pun melayang ke Portugal, negeri tempat anakku dilahirkan, dimana banyak kenangan manis hidupku tertinggal di sana. Aku mengingat kota-kota kecil yang memiliki junta de freguesia, semacam kelurahan yang secara rutin menyelenggarakan pameran dan pertunjukan seni. 

Bukan di galeri mewah, bukan di ruang-ruang elitis. Tapi di gedung pertemuan warga, di kantor administrasi tingkat paling rendah, seni tumbuh sebagai bagian dari pernapasan sehari-hari. 

Aku membayangkan: andai di setiap kelurahan di negeri ini ada ruang bagi seniman lokal memamerkan karyanya, ada forum diskusi tentang estetika, ada anak-anak muda yang belajar bahwa keindahan adalah hak mereka, bukan kemewahan. Bayangkanlah dahsyatnya.

Aku tersentak dari lamunan. Ada getir di sana, tapi juga harapan yang tak mau padam. SBY dengan komunitasnya telah memulai sesuatu sebuah prototipe bahwa apresiasi seni harus ditanam dari akar rumput, bahwa keindahan harus didemokratisasikan.

Aku kembali tertegun di depan dua lukisan SBY. Lalu, aku mencoba mengingat-ingat semua teori dan kerangka analisis yang dulu kugunakan saat menulis resensi dan kritik seni. 

Teori mimesis dari Aristoteles, yang melihat seni sebagai representasi realitas. Tapi kemudian munculah modernisme yang justru membebaskan seni dari kewajiban meniru seni bukan lagi jendela ke dunia, tapi jendela ke dalam jiwa. Ekspresionisme mengajarkan bahwa distorsi adalah kejujuran yang lebih dalam ketimbang realisme. 

Dan itulah yang kulihat pada mural-mural di beberapa dinding kota dalam perjalanan menuju Hyatt: sebuah kejujuran yang lahir dari permainan batin yang suka bermain, gojek kere ala Jogja.

Garis. Warna. Tekstur. Ekspresi. Nuansa. Gaya. Aliran. Konteks. Biografi pelukisnya.

Ah, semua kosakata itu kembali. Perlahan, seperti air yang meresap ke tanah kering, ingatan-ingatanku tentang dunia seni rupa mulai mengalir lagi. 

Aku teringat saat menulis pameran Hardi seniman yang lukisannya adalah pernyataan politik, kanvas sebagai medan perang ideologi. Eddy Gajah dengan kekuatan visualnya yang menghantam. 

Jeihan dengan mata-mata hitamnya yang legendaris, yang seolah menatap balik para penikmatnya dengan pertanyaan eksistensial: siapa sebenarnya yang sedang menatap siapa?

Aku pun teringat skena kreatif Jogja pasca reformasi. Gelombang euforia demokrasi melahirkan kelompok-kelompok seni yang garang dan tak mau kompromi. Taring Padi dengan cetak cukil kayunya yang penuh amarah sosial, poster-posternya yang berteriak tentang ketidakadilan, adalah anak kandung reformasi yang paling vokal. 

Apotik Komik, dengan pendekatan seni jalanan yang kenes, cerdas, dan dekat dengan keseharian warga kota. Mereka mendobrak galeri, menolak putih-bersih dinding museum, memilih jalanan sebagai ruang pamer mereka. Seni publik, mantra mereka bukankah juga yang dicitakan oleh SBY Art Community, meski dengan pendekatan yang berbeda?

Semua ingatan itu hadir. Bukan sebagai daftar peristiwa masa lalu, melainkan sebagai aliran sungai bawah tanah yang akhirnya menemukan celah untuk menyembul ke permukaan. Aku menyadari: apresiasi seni tidak pernah benar-benar mati dalam diriku. Ia hanya tidur panjang, seperti benih yang menanti musim hujan.

Dan hujan itu akhirnya turun juga. Dalam bentuk dua lukisan biru di pagi hari di resto hotel, obrolan ringan dengan kawan lama, dan ingatan-ingatan yang berdesakan ingin dituliskan kembali.

Aku, yang dulu menulis tentang pameran, resensi, kritik kini justru menjadi bagian dari narasi yang lebih besar: tentang bagaimana seni selalu menemukan jalannya kembali. Bagaimana seorang mantan presiden yang mengisi harinya dengan melukis dan seorang mantan jurnalis budaya yang menemukan kembali apresiasinya, terhubung dalam jaring-jaring estetika yang tak kasatmata.

Seni, pada akhirnya, adalah tentang keterhubungan. Tentang bagaimana sapuan kuas di sebuah kanvas bisa membangunkan ingatan yang tertidur selama dua puluh lima tahun. 

Tentang bagaimana warna biru bisa menjadi pintu menuju Portugal, reformasi, Hardi, Jeihan, Taring Padi, dan Apotik Komik—semuanya berkelindan dalam kesadaran seorang manusia yang sedang sarapan pagi.

Aku tersenyum. Di luar jendela, langit Jogja juga sedang biru.

Dan aku tahu, aku telah pulang.rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA