Pergerakan greenback dibayangi oleh volatilitas harga minyak dunia serta kekhawatiran inflasi yang memicu spekulasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve).
Menilik laporan Reuters, pada Rabu pagi 23 September 2026, indeks Dolar (Indeks DXY) tercatat naik 0,17 persen ke level 100,59, setelah sempat melesat hingga 0,29 persen ke posisi 100,70, level tertinggi sejak 30 Juli.
Di sisi lain, mata uang utama dunia mengalami tekanan; Euro melemah 0,18 persen ke posisi 1,1441 Dolar AS, dan Poundsterling merosot 0,23 persen ke level 1,3332 Dolar AS.
Terhadap Yen Jepang, Dolar AS menguat 0,03 persen menjadi 157,41 yen dan berada di jalur kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut.
Fluktuasi pasar dipicu oleh perkembangan konflik di Timur Tengah serta pernyataan Presiden AS Donald Trump di Sidang Umum PBB. Pasar sempat diwarnai optimisme menyusul kabar bahwa Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila AS mengurangi tekanan militer. Namun, sentimen kembali berubah setelah Trump memperkirakan kesepakatan komprehensif baru akan tercapai usai pemilu paruh waktu AS pada November mendatang.
Kondisi tersebut menjaga harga minyak mentah Brent di sekitar kisaran 100 Dolar AS per barel, yang memperkuat risiko tekanan inflasi berkepanjangan. Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Presiden Fed Boston Susan Collins dan Presiden Fed Richmond Tom Barkin, mengisyaratkan keterbukaan terhadap kenaikan suku bunga lanjutan demi meredam inflasi agar kembali ke target 2 persen.
Berdasarkan data FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober mendatang sebesar 55,4 persen, turun tipis dari 57,6 persen pada sesi sebelumnya.
BERITA TERKAIT: