Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 64 poin atau 0,36 persen ke level Rp17.862 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu kenaikan harga minyak mentah yang menembus di atas 83 dolar AS per barel.
“Kebutuhan impor minyak mentah yang tinggi memaksa pelaku usaha dan pemerintah mengeluarkan pembayaran dalam denominasi dolar AS,” kata Ibrahim dalam risetnya.
Menurutnya, lonjakan permintaan dolar AS untuk membeli minyak mentah di pasar global memperkuat posisi mata uang Paman Sam sekaligus menekan nilai tukar Rupiah.
Di sisi lain, Ibrahim menyoroti posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia yang mencapai 453,4 miliar dolar AS atau setara Rp8.089,1 triliun pada triwulan II 2026.
“Posisi tersebut tumbuh 4,4 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut juga meningkat dibandingkan posisi ULN Indonesia pada Mei 2026 yang tercatat sebesar 444,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp7.928,5 triliun,” jelasnya.
Perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN).
Selain itu, pasar, kata Ibrahim, juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar selama dua hari pada 18-19 Agustus 2026. Keputusan kebijakan moneter akan diumumkan pada Rabu 19 Agustus 2026.
Ibrahim memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen setelah menaikkan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin sepanjang April-Juni 2026.
Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati pandangan BI mengenai stabilitas Rupiah, inflasi domestik, kondisi likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.
“Sikap dan panduan BI akan menjadi salah satu penentu arah Rupiah berikutnya di tengah ketidakpastian global, setelah fase stabilisasi yang cukup agresif selama beberapa bulan terakhir di bawah kepemimpinan Bapak Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia,” tandasnya.
BERITA TERKAIT: