Mengutip data Bloomberg, Rupiah berada di level Rp17.906 per Dolar AS atau melemah 88 poin (0,49 persen) dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan terhadap Rupiah datang dari kombinasi sentimen global dan kebutuhan valas domestik.
“Pelemahan Rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal,” kata Erwin dalam keterangan tertulisnya kepada awak media.
Ekspektasi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun hingga 5,11 persen, yang menurut Erwin merupakan level tertinggi sejak 2007.
Tak hanya itu, tekanan eksternal kata Erwin juga menguat akibat ketidakpastian konflik di Timur Tengah.
“Tekanan juga berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia, sehingga harga minyak Brent kembali di atas 100 Dolar AS per barel,” jelasnya.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah turut berasal dari kebutuhan valuta asing importir menjelang berakhirnya kuartal III 2026. Selain itu, terjadi arus keluar portofolio dari aset-aset emerging markets.
Menghadapi tekanan tersebut, BI memastikan intervensi pasar terus dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memastikan mekanisme pasar tetap berjalan.
“Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental dan memastikan mekanisme pasar berjalan baik,” tegas Erwin.
BI juga memperkuat strategi operasi moneter pro-market untuk mengelola struktur suku bunga di pasar uang.
Langkah stabilisasi diperkuat melalui peningkatan insentif Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada bank dalam rangka pendanaan luar negeri.
Selain itu, BI memperluas transaksi underlying yang mencakup arus masuk modal portofolio, pinjaman luar negeri oleh bank, serta foreign direct investment.
“Intervensi juga dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,”tuturnya.
Ia menegaskan koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga ikut terus diperkuat.
Di tengah pelemahan harian tersebut, BI mencatat kinerja Rupiah secara quarter-to-date (qtd) masih menguat 0,46 persen dan bergerak sejalan dengan mata uang kawasan.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia juga meningkat menjadi 146,5 miliar Dolar AS pada akhir Agustus 2026.
BERITA TERKAIT: