Penurunan ini dipicu oleh rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang secara mengejutkan memburuk, sehingga memperlemah peluang bank sentral AS (The Fed) untuk menaikkan suku bunga.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan hilangnya 23.000 lapangan kerja pada Juli, padahal para ekonom memperkirakan adanya penambahan 80.000 lapangan kerja. Meskipun tingkat pengangguran berada di angka 4,1 persen, tingkat partisipasi angkatan kerja merosot ke level terendah dalam hampir lima setengah tahun, yaitu 61,4 persen.
Kondisi pasar tenaga kerja yang melemah ini memicu pergeseran ekspektasi suku bunga, di mana pasar kini menilai The Fed akan menunda kenaikan suku bunga dari September ke Oktober atau Desember. Peluang The Fed untuk menahan suku bunga pada September pun melonjak menjadi 56 persen, naik dari 45 persen sehari sebelumnya.
Secara spesifik terhadap Yen Jepang, Dolar AS melemah 0,57 persen ke posisi 157,56 Yen. Penurunan ini menghapus penguatan harian Dolar AS sebelumnya, meski secara akumulasi mingguan Dolar AS masih mencatat kenaikan tipis sekitar 0,10 persen.
Sementara itu terhadap Euro, Dolar AS melemah seiring dengan penguatan Euro sebesar 0,39 persen menjadi 1,1568 Dolar AS per Euro. Secara mingguan, Dolar AS terdepresiasi sebesar 0,41 persen terhadap mata uang kawasan Eropa tersebut.
Secara keseluruhan, Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan Dolar AS terhadap sekumpulan mata uang utama, turun 0,44 persen ke level 99,50. Catatan ini menandai penurunan mingguan sebesar 0,31 persen sekaligus menjadi tren penurunan selama dua pekan berturut-turut.
Melemahnya prospek Dolar AS ini turut memicu penurunan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS bertenor 2 tahun menjadi 4,245 persen dan tenor 10 tahun ke level 4,649 persen.
BERITA TERKAIT: