Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 10.30 WIB, Rupiah melemah 41 poin atau 0,23 persen menjadi Rp17.935 per Dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan, tekanan terhadap Rupiah tidak terlepas dari posisi indeks dolar AS (DXY) yang masih bertahan di level tinggi, yakni sekitar 101,47.
“Indeks Dolar AS atau DXY masih berada pada level tinggi di sekitar 101,47, didukung oleh tingginya imbal hasil AS dan aktivitas ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, meskipun penguatannya terbatas oleh inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi,” kata Andry dalam risetnya.
Data inflasi AS pada Agustus 2026 menunjukkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan. Sementara PCE inti meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 3 persen secara tahunan.
Di sisi lain, sejumlah indikator ekonomi AS justru menunjukkan ketahanan ekonomi yang lebih kuat. Estimasi final pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal II-2026 direvisi naik menjadi 2,2 persen secara tahunan, dari estimasi sebelumnya 1,5 persen.
Data ketenagakerjaan juga menunjukkan peningkatan. Jumlah tenaga kerja sektor swasta berdasarkan laporan ADP bertambah 90 ribu pada September, lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 70 ribu.
Kondisi tersebut turut menjaga imbal hasil US Treasury tetap tinggi. Yield Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,29 persen setelah sempat menyentuh 5,30 persen, sedangkan tenor dua tahun bertahan di kisaran 4,89 persen.
Andry menjelaskan, yield obligasi pemerintah AS sempat turun setelah data inflasi dirilis. Namun, pergerakannya kembali berbalik naik setelah data PDB dan ketenagakerjaan memperkuat ekspektasi bahwa aktivitas ekonomi AS masih cukup kuat.
Tekanan terhadap obligasi tenor panjang juga masih datang dari kekhawatiran terhadap defisit fiskal AS serta tingginya pasokan penerbitan Treasury.
Sementara itu, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) kembali menurun. Probabilitas kenaikan 25 basis poin (bps) pada pertemuan FOMC 27-28 Oktober diperkirakan turun menjadi sekitar 37 persen dari sebelumnya 52 persen.
Pasar saat ini disebut mengalihkan perhatian ke laporan ketenagakerjaan AS September yang akan dirilis Jumat mendatang.
Sementara itu dari pasar komoditas, harga minyak mentah Brent berjangka pada awal perdagangan Kamis naik tipis 12 sen atau 0,1 persen menjadi 98,15 Dolar AS per barel.
Sebaliknya, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 7 sen atau 0,1 persen menjadi 90,35 Dolar AS per barel.

|
BERITA TERKAIT: