Mengutip data Bloomberg, Rupiah bergerak ke Rp17.905 per Dolar AS, melemah 23 poin afau 0,13 persen dari perdagangan sebelumnya.
Tekanan Rupiah terjadi di tengah harga minyak dunia yang kembali di atas level 100 Dolar AS per barel.
Pada pagi ini, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 dibanderol 101,90 Dolar AS per barel, tergelincir 35 sen atau 0,34 persen dari perdagangan sebelumnya.
Sementara, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 ikut turun 62 sen atau 0,68 persen ke 90,49 Dolar AS per barel.
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan mengatakan tekanan harga minyak mentah memicu The Fed, Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 persentase poin pada 16 September 2026.
Kondisi ini, menurutnya membuat mata uang Garuda terus melemah hingga sempat menyentuh Rp18.000 per Dolar AS.
“Dampaknya langsung terasa pada Rupiah, yang sempat turun dari Rp17.700 menjadi sekitar Rp18.000 per Dolar AS,” kata Anthony dalam risetnya.
Ia mengatakan, tekanan Rupiah akan berlanjut jika harga minyak terus bertahan di level 100 Dolar AS.
“Kalau harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel sampai akhir tahun, defisit transaksi berjalan akan meningkat, dan rupiah siap-siap mendekati Rp19.000 per dolar AS, bahkan bisa lebih rendah,” tandasnya.
BERITA TERKAIT: