Harga minyak mentah Brent terpantau turun 4,27 Dolar AS atau 4,8 persen menjadi 84,09 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat melemah 3,35 Dolar AS atau 4,1 persen ke level 79,26 Dolar AS per barel.
Dalam tiga hari terakhir, harga Brent telah terkoreksi sekitar 16 persen, menjadikannya berada di level terendah sejak 13 Juli, sedangkan WTI berada di titik terendah sejak 16 Juli.
Meredanya ketegangan antara AS dan Iran menjadi penyebab utama turunnya harga minyak. Pelaku pasar mulai melihat adanya peluang untuk mengakhiri konflik melalui perundingan setelah kedua negara menghentikan aksi saling serang. Namun, situasinya masih belum benar-benar stabil. Iran membantah adanya pembicaraan langsung dengan AS, berbeda dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang sebelumnya mengatakan bahwa kedua pihak tengah melakukan "pembicaraan yang baik".
Perhatian pasar kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Iran mengusulkan pembukaan kembali selat tersebut secara sementara dengan pengaturan jalur pelayaran yang sebagian berada di wilayah perairannya. Hingga kini, usulan tersebut belum mencapai kesepakatan sehingga ketidakpastian terhadap pasokan minyak global masih membayangi pasar.
Di sisi lain, gangguan terhadap pasokan minyak belum sepenuhnya mereda. Saudi Aramco menutup sementara kilang minyak Jizan yang memiliki kapasitas 400.000 barel per hari setelah serangan kelompok Houthi. Kelompok yang didukung Iran itu juga mengklaim telah meluncurkan rudal balistik ke sebuah kapal tanker minyak milik Arab Saudi. Serangan-serangan tersebut membuat jalur pelayaran di Laut Merah masih berisiko, meski lalu lintas kapal di Selat Bab el-Mandeb mulai meningkat dibanding beberapa hari sebelumnya.
Pasar juga mencermati langkah negara-negara anggota OPEC+ yang disebut-sebut berencana menghentikan sementara peningkatan produksi minyak selama tiga bulan mulai Oktober 2026. Jika keputusan itu benar diambil, tambahan pasokan minyak ke pasar akan tertunda dan berpotensi menahan penurunan harga minyak lebih lanjut.
Selain perkembangan di Timur Tengah, pelaku pasar turut memantau perang Rusia-Ukraina. Apabila pembicaraan damai berhasil dilakukan dan sebagian sanksi terhadap Rusia dicabut, ekspor minyak Rusia berpotensi meningkat. Tambahan pasokan dari salah satu produsen minyak terbesar dunia itu dapat kembali memengaruhi pergerakan harga minyak global dalam beberapa bulan mendatang.
BERITA TERKAIT: