Harga Minyak Terkoreksi usai Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 03 Agustus 2026, 09:23 WIB
Harga Minyak Terkoreksi usai Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran
Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Kecil Besar
rmol news logo Harga minyak dunia merosot lebih dari 4 persen pada perdagangan Asia, Senin 3 Agustus 2026, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pembatalan rencana serangan terhadap Iran. 

Dikutip dari CNBC International, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September turun 4,5 persen menjadi 80,89 Dolar AS per barel. Sementara harga Brent untuk kontrak Oktober melemah 4,4 persen ke 84,10 Dolar AS per barel.

Penurunan tajam ini terjadi karena investor mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak naik akibat meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengatakan telah membatalkan rencana serangan setelah menerima permintaan dari Iran dan sejumlah negara Timur Tengah agar memberi kesempatan bagi jalur diplomasi.

"Kami baru saja diminta oleh Iran, dan negara-negara Timur Tengah lainnya, untuk menahan diri dari serangan apa pun karena batasan-batasan kesepakatan telah disetujui," tulis Trump di Truth Social.

Trump juga menyebut kesepakatan yang sedang dibahas mencakup pembukaan Selat Hormuz secara penuh serta pengakhiran ancaman nuklir Iran.

Sebelumnya, pemerintah AS dikabarkan tengah mempertimbangkan gelombang serangan udara lanjutan terhadap Iran setelah upaya diplomatik dinilai mengalami kebuntuan.
Meski demikian, Iran menanggapi pernyataan Trump dengan hati-hati. 

Penjabat Menteri Pertahanan Iran, Seyyed Majid Ibn Al-Reza, mengatakan negaranya tetap menganggap setiap ancaman sebagai sesuatu yang nyata.

"Meskipun pernyataan musuh baru-baru ini merupakan bagian dari kampanye perang psikologis dan kognitif, kami menganggap setiap ancaman sebagai nyata dan menanggapinya dengan serius," ujarnya.

Di sisi lain, kantor berita Fars International yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menolak usulan Trump dan menyebut tuntutan tersebut hanya sebagai "daftar keinginan."rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA