Indeks STOXX 600 parkir di zona merah dengan penurunan 0,6 persen atau 3,62 poin menjadi 602,96.
Indeks utama lainnya juga melemah. FTSE 100 Inggris ambles 1,16 persen atau 119,68 poin menjadi 10.213,11. CAC Prancis melemah 0,39 persen atau 31,96 poin ke posisi 8.072,13.
Sementara itu, DAX Jerman mencatat rekor buruk dengan pelemahan delapan sesi berturut-turut, durasi terpanjang sejak tahun 2020. Indeks ini menyusut 0,27 persen atau 63,70 poin menjadi 23.954,56.
Ketergantungan Eropa terhadap energi membuat kawasan ini sangat rentan terhadap dampak perang Iran, yang kini menyeret posisi ekuitas 5 persen di bawah level sebelum konflik pecah.
Data ekonomi terbaru memperparah keadaan dengan menunjukkan inflasi Jerman yang memanas serta jatuhnya sentimen ekonomi zona Euro ke titik terendah dalam tiga setengah tahun. Investor kini cenderung menahan diri (wait and see) menjelang keputusan kebijakan moneter dari Bank Sentral Eropa (ECB) dan The Fed.
Di level korporasi, pergerakan harga saham menunjukkan anomali di mana kinerja fundamental yang solid sering kali diabaikan oleh pasar.
Sektor kesehatan menjadi beban utama setelah raksasa farmasi seperti GSK dan AstraZeneca masing-masing merosot 5,4 persen dan 1,5 persen meski mencatat laba kuat.
Meski mayoritas memerah, beberapa emiten berhasil mencuri perhatian melalui aksi korporasi dan kejutan laba.
Saham Thyssenkrupp melejit hampir 10 persen merespons kesepakatan akuisisi unit lift mereka senilai 29,4 miliar Euro. Saham Adidas melambung 8,4 persen berkat kinerja operasional yang melampaui ekspektasi.
Di sektor perbankan, UBS tampil perkasa dengan kenaikan 3,2 persen, berbanding terbalik dengan Deutsche Bank yang harus terkoreksi 1,8 persen.
BERITA TERKAIT: