Laporan bahwa Iran menghentikan komunikasi dengan Amerika Serikat dan mengancam memperpanjang blokade di Selat Hormuz memudarkan harapan tercapainya kesepakatan yang dapat meredakan gangguan pasokan energi global.
Indeks Euro STOXX 50 turun 0,5 persen ke level 6.023, sementara STOXX Europe 600 melemah 0,9 persen menjadi 620. Lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi kawasan euro memperkuat kekhawatiran pasar terhadap risiko perlambatan ekonomi dan tekanan inflasi yang berkepanjangan.
Mayoritas bursa utama Eropa bergerak di zona merah. DAX Jerman turun 0,4 persen ke 24.994, CAC 40 Prancis melemah 0,4 persen ke 8.147, FTSE MIB Italia kehilangan 0,5 persen ke 49.775, sedangkan FTSE 100 Inggris terkoreksi lebih dari 0,5 persen.
Sektor industri, dirgantara, dan keuangan menjadi pemberat utama pasar.
Saham Airbus turun 4,3 persen. Begitu juga dengan saham Safran, Rheinmetall, MTU Aero Engines, Intesa Sanpaolo, dan UniCredit yang mencatat penurunan seiring meningkatnya biaya energi dan kenaikan imbal hasil obligasi.
Di London, saham pertahanan seperti BAE Systems, Babcock, dan Rolls-Royce juga mengalami tekanan signifikan.
Di tengah pelemahan pasar yang luas, sektor energi menjadi pengecualian. Kenaikan harga minyak mendorong penguatan saham-saham energi seperti Shell, BP, Eni, dan TotalEnergies.
Sementara itu, saham SAP melonjak lebih dari 8 persen setelah mendapat sentimen positif dari perkembangan industri semikonduktor dan kecerdasan buatan.
Secara keseluruhan, investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko sambil mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi global dan prospek pertumbuhan ekonomi Eropa.
BERITA TERKAIT: