Pada tanggal 12 Agustus mendatang, sebuah pertunjukan kosmik berupa Gerhana Matahari Total siap mengubah siang hari yang terang benderang menjadi remang-remang layaknya suasana senja.
Peristiwa astronomi ini memiliki nilai historis yang tinggi karena tercatat sebagai gerhana matahari total pertama yang dapat disaksikan dari daratan utama Eropa sejak 1999 silam.
Menurut data dari European Space Agency dan Time and Date, jalur bayangan inti (umbra) akan melintasi wilayah timur Greenland, barat Islandia, timur laut Portugal, serta utara Spanyol dan Kepulauan Balearic.
Secara global, fase gerhana sebagian akan dimulai pada pukul 15:34 UTC (22:34 WIB). Puncak kegelapan total diproyeksikan terjadi pada pukul 17:46 UTC atau 00:46 WIB, sebelum akhirnya seluruh rangkaian fenomena ini benar-benar berakhir pada 01:34 WIB.
Saat fase totalitas terjadi, lapisan korona matahari yang berwarna putih keperakan akan terlihat sangat menawan di langit.
Perubahan alam pun akan terasa nyata; suhu udara berpotensi turun drastis, bintang-bintang terang akan bermunculan, hingga memicu insting alami hewan yang mengira malam telah tiba.
Sayangnya, masyarakat di Indonesia tidak akan bisa menikmati pemandangan langka ini secara langsung lantaran wilayah Nusantara sudah memasuki waktu malam hari.
Walaupun visualnya sangat memukau, para ahli memperingatkan agar pengamatan—terutama pada fase gerhana sebagian—wajib menggunakan pelindung mata khusus untuk menghindari kerusakan penglihatan secara permanen.
Menariknya, fenomena yang menjadi laboratorium alam bagi para ilmuwan ini, juga menjadi jembatan menuju fenomena gerhana terpanjang abad ini yang diperkirakan akan melintasi Afrika Utara dan Timur Tengah pada 2 Agustus 2027 mendatang.
BERITA TERKAIT: