Kondisi ini mencerminkan kecemasan investor terhadap memanasnya suhu geopolitik di Timur Tengah serta kontraksi aktivitas bisnis di zona Euro yang tidak terduga.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran pasca kegagalan negosiasi damai menjadi beban utama bagi sentimen pasar, terutama setelah munculnya laporan mengenai aksi militer Iran di Selat Hormuz. Situasi ini membuat bursa Eropa terlihat tertinggal dibandingkan Wall Street karena kerentanan kawasan terhadap gejolak harga energi.
Di tingkat regional, performa bursa bergerak bervariasi dengan indeks CAC 40 Prancis yang menguat 0,87 persen atau 70,89 poin menjadi 8.227,32. Penguatan tersebut berkat dorongan sektor barang mewah.
Indeks DAX Jerman dan FTSE 100 Inggris justru berakhir di zona merah. DAX turun 0,16 persen atau 39,45 poin ke posisi 24.155,45 dan FTSE 100 Inggris melemah 0,19 persen atau 19,45 poin menjadi 10.457,01.
Meskipun indikator ekonomi makro melemah, kinerja emiten menjadi penyelamat agar indeks tidak merosot lebih dalam.
Saham L'Oreal mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 9 persen setelah hasil penjualan kuartal pertama melampaui ekspektasi.
Saham Nokia juga menguat 6,4 persen berkat prospek kecerdasan buatan, begitu juga dengan saham Nestle yang tetap tangguh meski di tengah konflik global.
Namun, sektor perbankan justru menjadi pemberat utama indeks setelah mengalami penurunan yang cukup tajam.
BERITA TERKAIT: