Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Kamis, 16 April 2026, 07:07 WIB
Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul
Ilustrasi (Artificial Inteligence)
rmol news logo Pasar saham Eropa terpantau melemah pada penutupan perdagangan Rabu 15 April 2026  dipicu oleh kombinasi kecemasan geopolitik di Timur Tengah dan rilis laporan keuangan emiten yang bervariasi.

Mayoritas bursa di Benua Biru berakhir di zona negatif, dengan indeks acuan STOXX 600 melemah 0,43 persen ke level 617,27.

Optimisme terhadap kemungkinan solusi diplomatik sempat membantu indeks STOXX 600 bangkit dari posisi terendahnya pada Maret. 

Indeks FTSE 100 Inggris turun 0,47 persen atau 49,48 poin ke posisi 10.559,58. CAC Prancis berkurang 0,64 persen atau 53,29 poin menjadi 8.274,57. Sedangkan DAX Jerman naik tipis 0,09 persen atau 22,48 poin ke 24.066,70.

Pasar terjepit di antara dua narasi terkait konflik Iran-AS. Meskipun ada harapan solusi diplomatik dari pernyataan Presiden Trump, ancaman Iran untuk mengganggu jalur perdagangan laut (Teluk, Laut Oman, dan Laut Merah) memicu kekhawatiran baru.

Ketergantungan industri Eropa terhadap energi membuat bursa kawasan ini tertinggal dibandingkan Wall Street. 

Axel Rudolph dari IG Group mencatat bahwa eksportir besar seperti Jerman sangat rentan terhadap tekanan harga minyak yang diprediksi tetap tinggi.

Uni Eropa telah memperingatkan kemungkinan pembatasan konsumsi bahan bakar jika gangguan energi terus berlanjut.

Sektor barang mewah menjadi yang terpukul, anjlok 2,5 persen. Saham Hermès jatuh 8,2 persen dan Kering (Gucci) merosot 9,2 persen akibat penurunan penjualan di tengah konflik.

Sektor teknologi bergerak variative. Saham ASML turun 4,2 persen meski prospek jangka panjangnya positif. 

Sektor keuangan memberikan bantalan bagi indeks dengan penguatan pada saham Wise, Nexi, dan Edenred yang naik antara 3,7 persen hingga 5,8 persen.

Presiden ECB, Christine Lagarde, masih bersikap wait and see terkait dampak inflasi dari harga minyak. 

Data LSEG menunjukkan pasar mulai skeptis terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, di mana probabilitas kenaikan pada pertemuan April menyusut drastis dari 50 persen menjadi hanya 24 persen. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA