Indeks STOXX 50 zona Euro merosot 1,9 persen ke level terendah sejak September, sementara STOXX 600 pan-Eropa jatuh 1,72 persen ke angka 574.
Penurunan tajam ini dipicu oleh sektor teknologi global yang melemah, dengan raksasa seperti ASML dan SAP terkoreksi lebih dari 3,5 persen. Di sisi lain, sektor perbankan turut terseret seiring berlanjutnya aksi jual obligasi pemerintah yang menekan neraca pemberi pinjaman besar seperti UniCredit, BNP Paribas, dan Intesa Sanpaolo.
Di Jerman, indeks DAX 40 Frankfurt anjlok sekitar 2 persen ke level 22.380, menandai titik terendah sejak April 2025. Para investor mulai mengantisipasi eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dilaporkan mengirim armada tempur tambahan ke kawasan tersebut.
Sentimen negatif ini memukul keras saham energi seperti E.ON yang turun 5,7 persen, serta sektor industri dan pertahanan seperti Siemens dan Rheinmetall yang merosot lebih dari 3 persen. Meskipun Heidelberg Materials dan Infineon mencatat sedikit penguatan, secara keseluruhan indeks Jerman mencatat kerugian mingguan sebesar 4,6 persen.
Situasi serupa terjadi di Inggris, di mana FTSE 100 jatuh lebih dari 1 persen ke level terendah tahun ini. Kenaikan harga minyak dan sikap agresif Bank of England menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya spiral inflasi.
Saham perbankan seperti HSBC dan Barclays kompak melemah, diikuti oleh raksasa minyak Shell dan BP yang turun hingga 3,3 persen. Meskipun sektor perjalanan seperti EasyJet memberikan sedikit dukungan, indeks utama London ini tetap mencatat kerugian mingguan ketiga berturut-turut.
Sementara itu di Prancis, indeks CAC 40 anjlok 1,8 persen ke level 7.666 seiring memudarnya harapan de-eskalasi diplomatik. Investor mulai beralih dari saham barang mewah dan teknologi, dengan Hermes International memimpin penurunan sebesar 4,9 persen.
Sektor pertahanan seperti Safran dan perbankan seperti Societe Generale juga menghadapi tekanan signifikan akibat ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut. Penurunan ini mengukuhkan tren negatif mingguan di seluruh pusat keuangan utama Eropa saat pasar bersiap menghadapi jalur suku bunga yang lebih ketat dari bank sentral.
BERITA TERKAIT: